PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASIKAN MATERI SUHU DAN KALOR SERTA WELL-BEING SISWA

 

PEMANFAATAN LABORATORIUM VIRTUAL

GUNA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASIKAN MATERI SUHU DAN KALOR SERTA WELL-BEING SISWA

KELAS VII SMP KESATRIAN 1 SEMARANG


Karya Inovasi Pembelajaran Guru

SMP Kesatrian 1 Semarang


      WIBOWO, S.Pd., M.Si.

      NIPY: 101.0567.0049


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  LatarBelakang

Berdasarkan raport pendidikan, dimana pada indictor proses pembelajaran mendapatkan penilaian “sedang”, maka kami berupaya untuk memperbaiki proses belajar mengajar di dalam kelas. Kagiatan yang kami lakukan adalah dengan menerapkan berbagai metode belajar mengajar dan juga bermacam pendekatan agar materi pelajaran dapat dikuasai oleh peserta didik.

Kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Prinsip kegiatan pembelajaran yang diamanatkan adalah: 

1)             Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan;

2)             Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat;

3)             Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik;

4)             Pembelajaran yang relevan  yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra; dan

5)             Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

Prinsip-prinsip di atas hendaknya diterapkan secara baik dalam kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan.

(https://ditsmp.kemdikbud.go.id/lima-prinsip-pembelajaran-dalam-kurikulum-merdeka/)

 

Mengacu hal tersebut, maka pembelajaran harus dirancang untuk mengembangkan kemampuan dan karakter peserta didik secara holistik serta bermakna dan menyenangkan. Untuk itu guru perlu membuat stategi pembelajaran yang memungkinkan materi pembelajaran dapat tersampaikan secara tepat. Tentunya hal ini dibutuhkan sebuah metode yang dikembangkan oleh seorang guru, yang disesuaikan dengan karakter peserta didik serta kekhasan dari materi yang akan disampaikan.

Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajaan dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan,pengadilan diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.

 

Drs.Syahril (2017:2) Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, karena dimanapun dan kapanpun di dunia ini terdapat pendidikan. Hasbullah (2017:1) Pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Bisri Mustofa (2015:7) pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses sebagai metode-metode tertentu sehingga orang memeroleh pengetahuan,pemahaman,dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam undang-undang Republik Indonesia tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (1) No.2 Tahun 2003 SISMPIKNAS menyatakn bahwa :

Tujuan Pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,sehat jasmani dan rohani, mempunyai keperibadian dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

Secara umum pendidikan merencanakan segala upaya untuk mempengaruhi orang lain baik individu maupun kelompok sehingga dapat melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Unsur-unsur pendidikan yang terlibat dalam proses pendidikan yaitu peserta didik, guru, sekolah, kurikulum, materi, dan model. Peserta didik merupakan orang yang memiliki potensi dasar yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun secara psikis. Tujuan pendidikan pada dasarnya menciptakan masyarakat yang cerdas dan perubahan tingkah laku baik intelektual,moral dan sosial. Guru merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilakukan. Guru juga hendaknya mengetahui kebutuhan para peserta didik. Guru menjadi bagian penting sebab dengan pendidikan, manusia mampu mengembangkan nalar berpikirnya sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kemampuan teknis atau pun non-teknis lainnya. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu dilakukan usaha yang semaksimal mungkin dari guru, guru harus mampu dalam mengelola komponen pembelajaran dan kreatif dalam mengembangkan meteri pelajaran sehingga materi pelajaran tersebut dapat diserap oleh peserta didik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam pembelajaran hal penting yang harus dilakukan adalah menampilkan kelas sebagai ruang belajar yang mendidik, memberikan kepuasan tersendiri dan menghasilkan praktik pendidikan yang bermutu dengan menggunakan pengajaran yang tidak membosankan peserta didik, karena dalam praktiknya peserta didik sering mengalami kejenuhan terhadap pelajaran yang disebabkan cara pengajaran guru yang kurang tepat pada pelajaran tertentu salah satunya adalah pelajaran IPA. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu disiplin Ilmu di SMP. Pembelajaran IPA di SMP bertujuan agar peserta didik mampu mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis terhadap sesuatu yang terjadi di alam sekitar, sehingga pembelajaran IPA di SMP peserta didik tidak hanya mampu menghafal konsep-konsep saja, tetapi peserta didik juga di tuntut mampu menjawab fenomena alam di lingkungan sekitarnya dengan daya pikir yang rasional dan ilmiah.

(http://portaluniversitasquality.ac.id:55555/1380/3/BAB%20I%20Siska%20Enjelina)

 

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pretest yang disebarkan secara sampling diperoleh hasil peserta didik dalam pembelajaran suhu dan kalor belum dapat dikatakan memenuhi kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran (KKTP) secara klasikal. Untuk lebih jelasnya di tunjukkan pada tabel 1.1 berikut: 


Tabel 1.1 Nilai Hasil Pretest Materi Suhu Dan Kalor Pada Mata Pelajaran IPA Kelas VII SMP Kesatrian 1 dengan KKTP Materi Suhu dan Kalor sebesar 75 diperoleh hasil 80,59% belum tercapai KKTP dan 19,41% sudah tercapai KKTP dan rata-rata perolehan nilai sebesar 57.

Maka disimpulkan bahwa dari hasil pretest kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan materi suhu dan kalor masih rendah. Hal ini dikarenakan peserta didik kurang praktik dan latihan dalam belajar sehingga peserta didik sulit untuk memahami materi suhu dan kalor.

Disamping itu pada proses pembelajaran juga diperlukan kondisi psikologis peserta didik yang nyaman dalam belajar, tidak merasa tertekan dan sesuai dengan kondisi atau gaya belajar mereka. Keadaan semacam ini dinamakan student well-being (kesejahteraan).  Kesejahteraan Peserta didik (Student well-being) di definisikan sebagai keadaan yang berkesinambungan dari kondisi mood positif dan sikap, ketahanan (resiliensi) dan kepuasan diri, serta hubungan dan pengalaman di sekolah (Noble, McGrath, Roffey & Rowling, 2008). 

1.2 Identifikasi Masalah          

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi hasil belajar peserta didik tergolong masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil pretest mereka. Disamping itu bahwa materi suhu dan kalor memerlukan kerja laboratorium/ praktikum untuk menghubungkan konsep dengan aplikasi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara kerja laboratorium materi suhu dan kalor memiliki keterbatasan sarana dan prasarana karena dibutuhkan peralatan yang memiliki tingkat ketelitian yang tinggi serta kemampuan mengkonversi ke skala yang lain harus akurat, belumlagi kendala teknis dalam praktikum laboartorium nyata.

Kecenderungan yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah guru menuliskan rumus-rumus dan memberikan latihan-latihan soal. Tentu saja hal ini tidak memberikan gambaran materi suhu dan kalor secara utuh. Disamping itu karena keterbatasan pemahaman peserta didik terhadap materi suhu dan kalor menyebabkan peserta didik belajar dengan perasaan tidak nyaman dan merasa tertekan karena harus menghafal rumus yang abstrak dalam pemikirannya.   

1.3  Rumusan Masalah

            Berpijak dari latar belakang dan identifikasi permasalahan, maka rumusan masalah penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut.

1)   Bagaimana meningkatkan kemampuan mengaplikasikan materi suhu dan kalor.

2)   Bagaimana menumbuhkan well-being peserta didik dalam belajar materi suhu dan kalor.

3)   Solusi yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kemampuan mengaplikasikan materi suhu dan kalor serta well-being peserta didik. 

1.4  Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1)   Menjelaskan cara meningkatkan kemampuan mengaplikasikan materi suhu dan kalor.

2)   Menjelaskan pentingnya well-being pada proses pembelajaran.

3)   Memberikan solusi yang dapat ditempuh untuk mengatasi kendala. 

1.5  Manfaat

Manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1)      Menambah wawasan bagaimana meningkatkan kemampuan mengaplikasikan materi suhu dan kalor.

2)      Memberi wawasan pentingnya well-being dalam pembelajaran.

3)      Sebagai sumbang pemikiran berkaitan dengan meningkatkan kemampuan mengaplikasikan materi suhu dan kalor serta well-being peserta didik.

 

BAB  II

PEMBAHASAN 

2.1  Laboratorium Virtual

2.1.1 Pengertian  Laboratorium Virtual

Laboratorium virtual adalah sebuah lingkungan interaktif untuk menciptakan sekaligus mengadakan eksperimen. Ini termasuk melakukan eksperimen dengan program simulasi yang bergantung pada domain. Ya, teknologi virtual reality bisa diadaptasi untuk menciptakan laboratorium virtual untuk mensimulasi proses dan aksi seperti di laboratorium fisik. Atau dengan kata lain, laboratorium virtual adalah cara terjangkau untuk sekolah atau universitas mendapatkan laboratorium untuk segala jenis subjek.

Pengajar menggunakan teknologi yang canggih untuk menghadirkan sederet proses eksperimen yang akan membuahkan hasil otentik layaknya di laboratorium fisik. Contohnya, pengajar bisa mengutak-atik peralatan laboratorium yang memiliki fungsi serupa seperti di dunia nyata.

Laboratorium virtual menawarkan pengguna khususnya guru dan pelajar, sebuah pengalaman belajar yang mungkin tidak praktis di kelas fisik. Pengguna dapat mendesain, mengembangkan, dan mencapai eksperimen yang mensimulasikan pengalaman maupun proses dalam konteks yang nyata. Seluruh pelajar bisa terlibat di seluruh prosesnya, tidak seperti di laboratorium fisik di mana hanya beberapa pelajar yang bisa melakukan proses serupa seperti guru.

Dibandingkan dengan laboratorium fisik yang jelas memiliki ruang terbatas, laboratorium virtual bisa digunakan untuk menunjukkan teknologi-teknologi seperti proyektor interaktif di seluruh kelasnya. Pengguna bisa menerapkan laboratorium virtual sebagai fasilitas pelengkap atau mandiri. Laboratorium virtual mandiri bisa digunakan ketika laboratorium fisik tidak mampu memfasilitasi eksperimen karena keterbatasan sumber daya.

Laboratorium virtual bahkan lebih efisien, signifikan, dan terjangkau untuk institusi-institusi pendidikan di negara berkembang, sebab fasilitas yang ada di laboratorium fisik kadang masih langka. Meskipun sudah banyak yang memiliki laboratorium fisik, fasilitas yang ada belum lengkap sehingga potensi pembelajaran menjadi kurang optimal.

(https://indonesiancloud.com/pembelajaran-menggunakan-laboratorium-virtual/) 

2.1.2 Manfaat Laboratorium Virtual

Infrastruktur laboratorium merupakan bagian yang sering menjadi hambatan utama. Pengadaan suatu infrastruktur tidak hanya masalah biaya dan waktu tetapi juga kelanjutan pengelolaan yang cukup kompleks, terutama bagi sekolah menengah pertama dengan sumberdaya (lahan, pekerja, dana dan waktu) yang terbatas. Beberapa hal lain yang dipandang menjadi permasalahan dalam pengelolaan laboratorium antara lain seperti (1) Sumber Daya Laboratorium: meliputi peralatan praktikum, pekerja/teknisi laboratorium, guru pembimbing, laboran praktikum, tempat praktikum, (2) Manajemen Laboratorium: Bagaimana pengelolaan waktu praktikum menjadi mudah, baik dari sisi pengelola maupun dari sisi pengguna laboratorium (peserta didik). Bagaimana peserta didik lebih maksimal menggunakan jam praktikum, (3) Biaya Praktikum : Bagaimana menekan biaya praktikum menjadi minimal, mengingat harga bahan praktikum yang terus mengalami kenaikan, tentunya dengan tidak mengurangi kualitas hasil praktikan, serta (4) Peningkatan mutu/kompetensi peserta didik dengan sumber daya terbatas di laboratorium (Muchlas, 2012). Ide penelitian ini adalah memodelkan suatu rekayasa perangkat lunak untuk pengembangan laboratorium virtual sebagai solusi dari keterbatasan sumberdaya pembelajaran (lahan, pekerja, dana, waktu) yang terbatas. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini antara lain: (1) Konten/isi laboratorium virtual berbasis online, (2) Pengelolaan Manajemen Laboratorium Virtual, dan (3) Pembelajaran praktikan secara online. Penelitian ini akan menghasilkan model pembelajaran praktikum secara virtual untuk memberikan solusi terutama kepada pengelolaan laboratorium di sekolah. Laboratorium virtual ini akan memberikan manfaat terutama kepada pengelola lembaga pendidikan dalam mengatasi keterbatasan sumberdaya, untuk peningkatan proses pendidikan khususnya di laboratorium. Bagi peserta didik/ pengguna pengembangan sistem akan mempunyai beberapa kemudahan seperti waktu dan tempat praktikum yang lebih fleksibel, tanpa mengurangi esensi praktikum dalam kompetensi yang diperoleh peserta didik.

(https://www.researchgate.net/profile/Erma-Susanti-2/publication/317037655_PENGEMBANGAN_MODEL_LABORATORIUM_VIRTUAL_SEBAGAI_SOLUSI_KETERBATASAN_SUMBER_DAYA_PEMBELAJARAN/links/592176d5458515e3d40591a4/PENGEMBANGAN-MODEL-LABORATORIUM-VIRTUAL-SEBAGAI-SOLUSI-KETERBATASAN-SUMBER-DAYA-PEMBELAJARAN.pdf) 

2.2.  Well-Being

School Well-being, atau kesejahteraan sekolah, adalah konsep yang melampaui sekadar akademik dan fisik. Ini mencakup aspek kesejahteraan holistik bagi semua anggota komunitas sekolah, termasuk peserta didik, guru, staf, dan orang tua. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang konsep School Well-being, dimensi yang membentuknya, serta faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan di lingkungan pendidikan.

Apa yang Dimaksud dengan School Well-being?

School Well-being adalah konsep yang berfokus pada penciptaan dan pemeliharaan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan holistik peserta didik dan semua anggota komunitas sekolah. Ini menggabungkan unsur-unsur kesejahteraan fisik, emosional, sosial, dan mental. Lebih dari sekadar memenuhi standar akademik, konsep ini menekankan pentingnya memberikan pengalaman belajar yang positif dan membangun karakter.

Dimensi School Well-being

Dimensi School Well-being mencerminkan berbagai aspek kesejahteraan yang memengaruhi pengalaman belajar dan lingkungan sekolah. Beberapa dimensi utama yang membentuk School Well-being adalah:

1)      Kesejahteraan Fisik

Kesejahteraan fisik melibatkan kondisi fisik sekolah, termasuk kebersihan, keamanan, dan aksesibilitas. Ini juga mencakup gaya hidup sehat, aktivitas fisik, dan gizi yang memadai bagi peserta didik. 

2)      Kesejahteraan Emosional

Dimensi ini berfokus pada pengelolaan emosi, kebahagiaan, dan kesehatan mental peserta didik. Guru dan staf sekolah berperan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung ekspresi emosional yang sehat.

3)      Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan sosial melibatkan hubungan antarindividu di sekolah. Membangun koneksi sosial yang positif, mendukung keterampilan interpersonal, dan mengatasi konflik merupakan bagian penting dari dimensi ini.

4)      Kesejahteraan Intelektual

Dimensi ini menekankan pentingnya memupuk minat belajar, pemecahan masalah, dan kreativitas. Peserta didik diharapkan merasa tertantang dan terinspirasi untuk mengembangkan potensi intelektual mereka.

5)      Kesejahteraan Spiritual

Kesejahteraan spiritual berkaitan dengan nilai-nilai dan tujuan hidup. Memfasilitasi refleksi pribadi, pengembangan nilai-nilai etika, dan penguatan spiritualitas adalah bagian dari dimensi ini.

School Well-being mencerminkan berbagai aspek yang memengaruhi pengalaman belajar dan lingkungan sekolah.

Faktor yang Mempengaruhi School Well-being

Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi tingkat School Well-being di lingkungan pendidikan. 

Faktor-faktor tersebut meliputi:

1)      Kualitas Pengajaran dan Pembelajaran

Pengalaman belajar yang bermakna dan interaktif dapat meningkatkan kesejahteraan peserta didik. Guru yang peduli, metode pengajaran yang inovatif, dan kurikulum yang relevan berkontribusi pada kualitas ini.

2)      Lingkungan Fisik yang Mendukung

Lingkungan sekolah yang aman, bersih, dan ramah anak memberikan dasar untuk kesejahteraan fisik dan emosional. Fasilitas yang memadai dan desain ruang yang ergonomis berdampak pada kesejahteraan.

3)      Keterlibatan Orang Tua dan Komunitas

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan dan dukungan dari komunitas sekolah dapat meningkatkan rasa dukungan dan kesejahteraan peserta didik. Kolaborasi antara rumah dan sekolah berdampak positif pada lingkungan belajar.

4)      Kebijakan dan Manajemen Sekolah

Kebijakan sekolah yang inklusif, transparan, dan adil menciptakan lingkungan yang mendukung School Well-being. Manajemen yang efektif juga memastikan penyelenggaraan pendidikan yang berjalan lancar.

5)      Dukungan Kesehatan Mental

Peserta didik yang memiliki akses terhadap dukungan kesehatan mental merasa lebih didukung dalam mengatasi tantangan emosional dan mental. Program dukungan psikologis di sekolah berperan penting dalam hal ini. 

6)      Pembinaan Karakter dan Etika

Pembinaan karakter dan etika yang kuat membentuk lingkungan sekolah yang beretika dan mengajarkan nilai-nilai yang penting bagi kesejahteraan.

Mengukur School Well-being

Mengukur tingkat School Well-being dapat dilakukan melalui berbagai indikator, seperti tingkat kehadiran peserta didik, partisipasi dalam kegiatan sekolah, dan hasil penilaian kesejahteraan peserta didik. Selain itu, survei atau wawancara dengan peserta didik, guru, dan orang tua dapat memberikan wawasan tentang persepsi mereka terhadap kesejahteraan sekolah.

(https://guruinovatif.id/artikel/mengenal-konsep-school-well-being-pendidikan-yang-melampaui-batas-kademik?username=redaksiguruinovatif)

Dengan  lingkungan belajar yang berpusat pada murid, diharapkan dapat mewujudkan student well-being, yang dideskripsikan sebagai sebuah kondisi yang menggambarkan mental dan fisik yang sehat, kuat, memiliki daya tahan untuk menjalankan fungsi dalam pekerjaanya maupun pribadinya.  Hal ini dapat terwujud jika murid bahagia dan nyaman  selama belajar di sekolah.  

2.3.  Materi Suhu dan Kalor

2.3.1  Kekhasan Materi Suhu dan Kalor

Didalam buku guru dituliskan untuk materi suhu dan kalor adalah sebagai berikut:

Pelajar diharapkan mampu melakukan pengukuran terhadap aspek fisis yang mereka temui dan memanfaatkan ragam gerak dan gaya (force), usaha dan energi, suhu dan kalor (termasuk isolator dan konduktor), gerak dan gaya, pesawat sederhana, tekanan, getaran dan gelombang, pemantulan dan pembiasan (alat-alat optik), rangkain listrik dan kemagnetan untuk menyelesaikan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 

Aktivitas yang disajikan mengikuti siklus inkuiri, sehingga diharapkan pelajar terbiasa dengan cara berpikir ilmiah yang menjadi tujuan IPA Terpadu. Contoh aktivitas belajar yang disajikan misalnya membuat pertanyaan, membuat dugaan, mencari informasi, melakukan pengamatan, berdiskusi dengan teman kelompok atau berpasangan, membuat kesimpulan dan membuat laporan sederhana.

Bab ini penting untuk membedakan pengertian suhu dan kalor. Guru diharapkan dapat membangun rasa ingin tahu pelajar dan menyediakan berbagai aktivitas belajar yang relevan sehingga pelajar menemukan fenomena suhu dan kalor yang menarik yang dapat melatih pelajar untuk berpikir kritis.

(http://118.98.166.64/bukuteks/assets/uploads/pdf/IPA-BG-KLS_VII.pdf) 

2.3.2  Keterkaitan Materi Suhu dan Kalor

Karakteristik mata pelajaran IPA adalah memuat materi yang luas dan terintegrasi dari berbagai bidang kajian biologi, IPA, kimia, bumi dan antariksa. Guru harus mampu membelajarkan materi tersebut serta aplikasinya yang terkait erat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Identifikasi permasalahan guru dalam membelajarkan IPA dilakukan agar dapat ditemukan solusi dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar IPA.

Suhu dan kalor merupakan materi yang cukup sulit dalam pelajaran IPA, karena didalamnya peserta didik mempelajari konsep yang abstrak. Misalnya tentang perpindahan panas pada saat konduksi, konveksi dan radiasi. Selain itu, materi ini bersifat kontekstual. Oleh karena, dalam membelajarkan suhu dan kalor perlu didukung media berbasis mobile.

(https://spektra.unsiq.ac.id/index.php/spek/article/download/110/pdf)

Suhu dan kalor merupakan materi yang abstrak namun penerapannya dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari (Ornek, Robinson, Haugan, & Email, 2008). Peserta didik sulit membedakan antara suhu dan kalor, lalu adanya anggapan bahwa terdapat kalor dingin dan kalor panas. Selain itu, peserta didik juga beranggapan bahwa suhu suatu benda sebanding dengan ukuran benda tersebut dan suhu dapat ditransferkan (Alwan, 2011; Chu, Treagust, Yeo, & Zadnik, 2012).

(https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/JNSI/article/download/1145/6895)

Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara suhu dan kalor, ternyata keduanya saling berhubungan. Hubungan antara suhu dan kalor adalah bentuk energi panas yang dapat diterima dan dilepaskan oleh benda. Semakin tinggi suhu suatu benda maka semakin panas benda itu dan semakin banyak energi kalor dalam benda itu.

 (https://kumparan.com/berita-terkini/perbedaan-suhu-dan-kalor-hubungan-serta-cara-perpindahannya-20QXJMBEVct/full)

 Kalor atau panas merupakan suatu bentuk energi, sedangkan suhu merupakan ukuran atau tingkat panas benda. Pada umumnya, suhu akan naik jika menyerap kalor dan turun jika melepaskan kalor. Semakin lama pemanasan, artinya kalor yang diterima air semakin besar dan suhu air semakin tinggi. Dengan demikian antara materi suhu dan kalor terdapat keterkaitan. Disamping itu pada proses penyerapan kalor pada suatu zat dapat mengakibatkan perubahan suhu benda, dimana benda menyerap kalor maka suhu benda meningkat, mengakibatkan gerak partikelnya semakin cepat seningga jarak partikenya semakin menjauh dan terjadi perubahan wujud zat.

Demikian sebaliknya pada proses pelepasan kalor pada suatu benda dapat mengakibatkan suhu benda menurun, mengakibatkan gerak partikel benda melemah sehingga jarak partikel merapat dan terjadi perubahan wujud benda. 

2.4  Kendala Peningkatan Kemampuan Mengaplikasikan Materi Suhu dan Kalor serta Well-Being peserta didik

Dari sebuah penelitian bahwa kesulitan peserta didik pada mata pelajaran IPA (fisika) terlihat dari beberapa materi tertentu, yaitu 26% pada materi Suhu dan Kalor, 25% pada materi Optik, 21% pada materi Fluida Statik, 17% pada materi Elastisitas dan Hukum Hooke.

Lebih lanjut dari penelitian terebur dikatakan bahwa fisika (suhu dan kalor) merupakan salah satu mata pelajaran yang cukup sulit dan menantang bagi peserta didik. Dari hasil angket, 33% peserta didik mengatakan bahwa fisika (suhu dan kalor) itu mata pelajaran yang menantang dan 51% peserta didik mengatakan bahwa fisika (suhu dan kalor)  itu sulit dipahami. Mereka yang mengatakan fisika (suhu dan kalor) itu menantang karena konsep fisika sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik merasa tertantang atau termotivasi untuk ingin mempelajarinya. Beberapa peserta didik mengatakan ingin mengerti dan mendalami fisika (suhu dan kalor). Mereka yang mengatakan fisika (suhu dan kalor) itu sulit disebabkan karena fisika (suhu dan kalor) terlalu banyak rumus (71%) dan banyak konsep (25%). Selain itu, beberapa peserta didik mengatakan merasa sulit mempelajari fisika (suhu dan kalor) karena banyak rumusnya, guru terlalu cepat ketika menerangkan dan metode pembelajarannya membosankan. Sebayang, menyatakan bahwa fisika (suhu dan kalor) merupakan mata pelajaran yang lumayan sulit. Karena sulitnya memahami fisika (suhu dan kalor) itulah yang menyebabkan mereka membenci pelajaran fisika (suhu dan kalor). Artinya kebahagiaan (well-being) dalam proses belajar mengajar tidak terjadi.

Seorang peserta didik mengatakan “Suhu dan Kalor itu kelihatannya mudah karena materinya (Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA) Vol 5, No 2, Desember 2015 Rismatul Azizah, et al 47) sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tetapi ketika menyelesaikan soal dengan permasalahan yang berbeda-beda saya merasa bingung dan mengalami kesulitan”. Berdasarkan alasan tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik mengalamai kesulitan pada materi suhu dan kalor dan mengalami kesulitan pemecahan masalah untuk menyelesaikan soal yang lebih kompleks. Hal ini didukung oleh pernyataan Sozbilir, yang mengatakan bahwa suhu dan kalor merupakan salah satu konsep yang sulit untuk dipelajari. Konsep suhu dan kalor yang terlalu abstrak dan menimbulkan berbagai pemikiran yang berbeda pada peserta didik ketika mempelajarinya. Akibatnya banyak peserta didik yang memiliki pemahaman yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksud sebenarnya.

Aspek cara mengajar guru juga tidak bisa dilepaskan dalam fenomena kesulitan pemecahan masalah yang dialami peserta didik. Sebesar 88% peserta didik mengatakan bahwa pembelajaran fisika (suhu dan kalor) di kelas dengan cara mendengarkan penjelasan dari guru (metode ceramah) dan hanya sebesar 22% peserta didik mengatakan pembelajaran fisika (suhu dan kalor) dilakukan dengan kegiatan praktikum.

Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan dalam angket dapat diketahui bahwa guru lebih mendominasi pembelajaran dikelas. Padahal peserta didik ingin kegiatan pembelajaran fisika (suhu dan kalor) bisa lebih aktif sehingga tidak membosankan (well-being), diperoleh dari hasil angket sebesar 53% peserta didik menginginkan adanya praktikum dalam pembelajaran fisika (suhu dan kalor) dan 34% diskusi dengan teman, dan sisanya penjelasan dari guru disertai demonstrasi.

Guru menjelaskan materi dengan perlahan, mudah dimengerti dan pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk lebih aktif sangat disarankan oleh sebagian besar peserta didik. Seorang peserta didik mengatakan, “Saya menginginkan pembelajaran fisika yang sering latihan soal, banyak praktikumnya atau dengan game, dan guru jangan terlalu sering menjelaskan soalnya saya jadi ngantuk”. Hal ini didukung oleh Widhiharto, menyatakan salah satu penyebab kesulitan peserta didik adalah faktor kurang tepatnya guru dalam mengelola pembelajaran. Wiyanto, menyatakan, proses pembelajaran fisika (suhu dan kalor) hanya memberikan rumus sehingga peserta didik cepat bosan. Peserta didik mengalami kesulitan belajar fisika (suhu dan kalor) dalam menyelesaikan permasalahan pada soal sebesar 32%, kesulitan memahami konsep dan rumus sebesar 26%, kesulitan menggunakan persamaan atau rumus dalam soal sebesar 18%.

(https://journal.unesa.ac.id/index.php/jpfa/article/view/821/621) 

Kegiatan pembelajaran yang mendukung kemampuan mengaplikasikan materi suhu dan kalor serta well-being peserta didik adalah menggunakan metode discovery/ inquiry melalui kegiatan laboratorium.

Kegiatan discovery/ inqury pada laboratorium nyata pada materi suhu dan kalor dibutuhkan alat dan bahan yang membutuhkan ketelitian yang tinggi. Dalam kenyataannya ketersediaan alat dan bahan untuk kegiatan praktikum suhu dan kalor yang tersedia di laboratirum sangat minim.

Disamping itu pada kegiatan laboratorium nyata materi suhu dan kalor sangat tergantung dengan proses pemanasan yang terkait dengan api, sehingga resiko kecelakaan sangat tinggi. Sebagai contoh pada proses konversi suhu antara beberapa termometer dengan skala yang berbeda, antara lain skala celcius, reamur, fahrenheit, dan kelvin yang keempat termometer tersebut dicelupkan secara bersama pada air yang dipanaskan dengan api. Hal ini pada pelaksanaannya sangat sulit dengan membuat keempat termometer secara bersama-sama dipanaskan dalam air yang dipanaskan. Apabila dibandingkan secara bergantian, maka suhunya akan tidak sama sehingga mengurangi keakuratan. Disamping itu percobaan suhu dan kalor memiliki resiko kecelakaan yang tinggi.  

2.5  Solusi Peningkatan Kemampuan Mengaplikasikan Materi Suhu dan Kalor serta Well-Being Peserta didik

2.5.1        Penerapan Model Pembelajaran Discovery/ Inquiry dengan Pemanfaatan Laboratorium Virtual

Dengan memperhatikan kendala yang dihadapai, maka diperlukan suatu alternatif model pembelajaran yang dapat memenuhi keterbatasan sarana dan prasarana serta memperkecil resiko adalah dengan memanfaatkan laboratorium virtual.

Karakteristik materi suhu dan kalor adalah memuat materi yang luas dan terintegrasi. Guru harus mampu membelajarkan materi tersebut serta aplikasinya yang terkait erat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Identifikasi permasalahan guru dalam membelajarkan materi suhu dan kalor dilakukan agar dapat ditemukan solusi dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar materi suhu dan kalor.

Suhu dan kalor merupakan materi yang cukup sulit dalam pelajaran IPA, karena didalamnya peserta didik mempelajari konsep yang abstrak. Misalnya tentang perubahan wujud zat karena perubahan kalor seperti proses perubahan wujud membeku terjadi karena zat melepaskan kalor. Begitu juga perubahan wujud zat menguap terjadi karena zat menyerap kalor sehingga terjadi perubahan wujud menjadi uap.  Selain itu, materi ini bersifat kontekstual. Oleh karena, dalam membelajarkan suhu dan kalor perlu didukung media berbasis mobile.

(https://spektra.unsiq.ac.id/index.php/spek/article/download/110/pdf)

Laboratorium virtual dapat didefinisikan sebagai perangkat lunak multisensori yang memiliki interaktivitas untuk mensimulasikan praktikum-praktikum tertentu dengan mereplikasi laboratorium konvensional. Laboratorium virtual memungkinkan peserta didik untuk belajar melalui pendekatan studi kasus, berinteraksi dengan peralatan laboratorium, melakukan eksperimen, menganalisis eksperimen sekaligus mengevaluasi proses yang dilakukan. Peserta didik dapat melihat ke dalam perangkat yang mereka operasikan melalui tampilan visual, animasi dan representasi yang diadaptasi dari laboratorium yang sesungguhnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan laboratorium virtual, kemungkinan untuk menjelajahi, bereksperimen, dan belajar menjadi lebih dinamis.

(https://jurnal.uns.ac.id/pdg/article/download/39434/pdf) 

2.5.2        Sintak – Sintak Model Pembelajaran Discovery/ Inquiry Dengan Pemanfaatan Laboratorium Virtual

Berikut adalah beberapa sintaks untuk metode discovery/inquiry yang mengintegrasikan materi tentang suhu dan kalor serta meningkatkan well-being peserta didik dengan menggunakan laboratorium virtual:

1)      Pengenalan Materi:

"Peserta didik akan diberikan pemahaman dasar tentang konsep suhu dan kalor melalui presentasi dan bahan bacaan." 

2)      Eksperimen Virtual Suhu dan Kalor:

"Peserta didik akan menjalankan eksperimen virtual untuk memahami bagaimana perubahan suhu memengaruhi kalor, menggunakan laboratorium virtual."

3)      Pengamatan dan Pengukuran:

"Peserta didik akan mengamati perubahan suhu pada benda-benda virtual dan melakukan pengukuran terkait."

4)      Penugasan Penyelidikan:

"Setelah eksperimen, peserta didik akan diberikan penugasan penyelidikan untuk mengidentifikasi aplikasi praktis dari konsep suhu dan kalor dalam kehidupan sehari-hari."

5)      Kaitkan dengan Well-being:

"Peserta didik akan diminta untuk merenungkan bagaimana pemahaman konsep suhu dan kalor dapat memengaruhi kesejahteraan dan kenyamanan mereka sehari-hari."

6)      Diskusi dan Analisis:

"Peserta didik akan berpartisipasi dalam diskusi untuk menganalisis data eksperimen virtual dan mengidentifikasi kaitan antara konsep suhu, kalor, dan perasaan kenyamanan."

7)      Refleksi pada Pengalaman:

"Peserta didik akan merenungkan dampak pemahaman konsep suhu dan kalor pada peningkatan kesejahteraan pribadi dan perasaan kenyamanan mereka." 

8)      Pengembangan Kesadaran Well-being:

"Selama pembelajaran, peserta didik akan mengembangkan pemahaman tentang cara menjaga kesejahteraan pribadi mereka dengan memanfaatkan pengetahuan tentang suhu dan kalor."

9)      Presentasi Hasil:

"Peserta didik akan menyajikan temuan mereka tentang kaitan antara suhu, kalor, dan well-being mereka dalam bentuk presentasi atau laporan."

10)  Perbandingan dengan Pengetahuan Awal: -

"Peserta didik akan membandingkan pengetahuan mereka sebelum dan setelah pembelajaran, dan merenungkan perkembangan dalam pemahaman konsep suhu dan kalor serta pengaruhnya terhadap well-being." 

2.5.3        Analisis Hasil Peningkatan Kemampuan Mengaplikasikan Materi Suhu dan Kalor serta Well-Being Peserta didik

Dengan pemanfaatan laboratorium virtual, maka kendala dalam mengaplikasikan materi suhu dan kalor serta well-being peserta didik dalam belajar dapat teratasi. Peserta didik dapat belajar dengan jelas, dan mampu menjadikan materi suhu dan kalor yang abstrak menjadi nyata dengan laboratorium virtual.

Begitu juga dengan pemanfaatan laboratorium virtual kenyamanan (well-being) peserta didik dalam belajar meningkat. Hal ini disebabkan karena peserta didik belajar sesuai dengan jamannya. Yaitu mereka belajar menggunakan aplikasi pada handphone yang menjadi gaya belajar generasi Z.

Berikut adalah hasil posttest materi suhu dan kalor serta well-being peserta didik yang tertulis dalam tabel 1.2 sebagai berikut:

Dari analisis tabel 1.2 hasil posttes diperoleh 24,13% peserta didik belum tercapai KKTP dan sebanyak 75,87% peserta didik sudah tercapai KKTP sedangkan rata-rata perolehan nilai sebesar 82.

Sementara hasil refleksi dari peserta didik terhadap well-being, diperoleh data grafik 1.1 sebagai berikut:

Berdasarkan pernyataan kejelasan penggunaan laboratorium virtual, diperoleh 64,3% peserta didik menjawab lebih jelas dengan laboratorium virtul dan 35,7% menjawab kurang jelas.

Pada refleksi mengenai perasaan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan laboratorium virtual, diperoleh data pada grafik 1.2 sebagai berikut:



  Berdasarkan grafik 1.2 mengenai perasaan ketika menggunakan aplikasi laboratorium virtual, diperoleh hasil 51,7% peserta didik merasa senang, sebanyak 19% peserta didik merasa bersemangat, sebnyk 13,8% peserta didik merasa sedih, sebanyak 12,1% peserta didik merasa kecewa dan sebanyak 3,4% merasa marah.

Apabila digabungkan menjadi dua kelompok perasaan yaitu kenyamanan dan tidak nyaman, maka diperoleh sebanyak 70,7% peserta didik merasa nyaman belajar dengan menggunakan laboratorium virtual dan sebanyak 29,3% peserta didik merasa tidak nyaman belajar menggunakan laboratorium virtual. 

BAB III

PENUTUP

 

3.1     Simpulan

Dari pembahasan yang telah penulis paparkan, maka dapat diambil kesimpulan:

1)      Dengan pemanfaatan Laboratorium Virtual dapat meningkatkan kemampuan mengaplikasikan materi suhu dan kalor. Hal ini dapat dilihat dari hasil posttest yang telah dilakukan.

2)      Dengan pemanfaatan Laboratorium Virtual dapat meningkatkan well-being peserta didik dalam mempelajari materi suhu dan kalor. Hal ini dapat dilihat dari hasil refleksi dalam posttest yang telah dilakukan. 

3.2 Saran

Berdasarkan simpulan tersebut, maka penulis menyampaikan saran sebagai berikut.

1)      Untuk lebih mengoptimalkan pembelajaran materi suhu dan kalor yang membutuhkan kerja laboratorium, maka dapat memanfaatkan Laboratorium Virtual dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

2)      Dengan memanfaatkan Laboratorium Virtual, maka dapat meningkatkan well-being peserta didik, karena mereka dapat belajar sesuai dengan zamannya.

3)      Sebagai alternatif pengajaran materi suhu dan kalor yang membutuhkan penggunaan laboratorium nyata dengan peralatan yang sangat rumit, maka pemanfaatan laboratorium virtual dapat dijadikan alternatif.  

 

DAFTAR PUSTAKA 

Alwan, A. A. (2011). Misconception of heat and temperature among physics students. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 12, 600–614. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011.02.074

Baser M. Effect of Conceptual Change Oriented Instruction on Students’ Understanding of heat and Temperature Concept. Journal of Maltese Education Research. 2006; 4(1): 64-79.

Bisri Mustofa. 2017. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : Parana Ilmu.

Hasbullah. 2017. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Depok : PT Raja Grafindo Persada.

Ihsana El Khuluqu. 2017. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Moh. Suardi SyofrianiSMPa. 2018. Belajar Dan Pembelajaran. Yogyakarta : Parama Ilmu.

Mulyono Abdurrahma. 2018. Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Nana Sudjana. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja RoSMPakarya.

Nana Syaodih Sukmadinata. 2017. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :PT Remaja RoSMPakarya.

Oemar Hamalik, 2016. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Remaja PT Bumi Aksara.

Ornek, F., Robinson, W. R., Haugan, M. P., & Email, C. A. (2008). What makes physics difficult ? International Journal of Environmental and Science Education, 3(1), 30–34. Retrieved fromhttp://www.acarindex.com/dosyalar/makale/acarindex-1423903900.pdf

Purwanto, J. P., & Winarti, W. (2016). Profil Pembelajaran IPA dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta didik Madrasah Aliyah se-DIY. Jurnal Penelitian Pembelajaran IPA, 7(1), 8–18. https://doi.org/10.26877/jp2f.v7i1.1148

Rahmawati, I., Hidayat, A., & Rahayu, S. (2016). Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Peserta didik SMP pada Materi Gaya dan Penerapannya. Prosiding Seminas Nasional Pendidikan IPA Pascasarjana UM, 1, 1112–1119.

Sebayang, P. Fisikawan Gampang Dibajak Pemerintah Kurang Perhatian. Pusat Pelatihan Fisika LIPI. Terdapat pada: http://www.fisika.lipi.go.id/in/?q=node/39251 8 ; 2011.

Setyadi, E., & Komalasari, A. (2012). Miskonsepsi tentang Suhu dan Kalor pada Peserta didik Kelas 1 di SMA Muhammadiyah Purworejo, Jawa Tengah. Berkala IPA Indonesia, 4(1 & 2), 46–49.

Sozbilir M. A Review of Selected Literature On Students’ Misconception of Heat And Temperature. Bogazia University Journal of Education. 2003; 20(1): 25-41.

Sundari, P. D., & Rimadani, E. (2020). Peningkatan Penalaran Ilmiah Peserta didik melalui Pembelajaran Guided Inquiry Berstrategi Scaffolding pada Materi Suhu dan Kalor. Jurnal Eksakta Pendidikan (JEP), 4(1), 34. https://doi.org/10.24036/jep/vol4-iss1/402

Sundari, P. D., Parno, & Kusairi, S. (2016). Hubungan antara Efikasi-diri dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta didik. Prosiding Seminas Nasional Pen, 1, 405–415.

Sundari, P. D., Parno, & Kusairi, S. (2018). Kemampuan Berpikir Kritis Peserta didik dalam Model Pembelajaran Terintegrasi. Jurnal Kependidikan, 2(2), 348–360.

Susilowati, Sajidan, & Ramli, M. (2017). Analisis keterampilan berpikir kritis peserta didik madrasah aliyah negeri di Kabupaten Magetan. Seminar Nasional Pendidikan Sains 2017 Dengan Tema "Strategi Pengembangan Pembelajaran Dan Penelitian Sains Untuk Mengasah Keterampilan Abad 21 (Creativity and Innovation, Critical Thinking and Problem Solving, Communication, Collaboration/4C)”, 21(2000), 223–231. Retrieved from http://www.jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/snps/article/viewFile/11417/8102  

Syahril. 2017. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Depok : Kencana.

Taqwa, M. R. A., & Faizah, R. (2016). Perlunya Program Resitasi dalam Meningkatkan Penguasaan Konsep Dinamika Partikel Mahapeserta didik. Pros. Semnas Pend. IPA Pascasarjana UM, (May), 482–487.

Widdiharto. Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika SMP dan Alternatif  Proses Remidinya. Yogyakarta: Depdiknas; 2008.

Wiyanto. Terjebak rutinitas, Fisika jadi membosankan. Terdapat pada: http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1262401114  ; 2009.

Yu, K. C., Lin, K. Y., & Fan, S. C. (2015). An exploratory study on the application of conceptual knowledge and critical thinking to technological issues. International Journal of Technology and Design Education, 25(3), 339–361. https://doi.org/10.1007/s10798-014-9289-5

Zubaidah, S. (2019). Mengenal 4C: Learning and Innovation Skills untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Seminar 2nd Science Education National Conference Di Universitas Trunojoyo








Comments

Kunjungan

Flag Counter