Aplikasi model pembelajaran Think Pair and Share (TPS)

 

Aplikasi model pembelajaran Think Pair and Share (TPS)
pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti di SMP Kesatrian 1 Semarang

Muhammad Agus Hanif, M.SI.

A.  Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan usaha sadar untuk mendapatkan berbagai macam pengalaman dalam kehidupan. Belajar bisa terjadi, jika terjadi interaksi komunikasi antar berbagai komponen pembelajaran. Komponen-komponen tersebut meliputi tujuan, materi, metode, strategi belajar mengajar dan komponen evaluasi. Istilah lain yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya, bahwa komponen sistem pembelajaran itu meliputi siswa, tujuan pembelajaran, kondisi (pengalaman belajar siswa), sumber-sumber belajar, dan hasil belajar. Dalam proses pembelajaran kegiatannya minimal dilakukan oleh guru dengan siswa. Tingkah laku guru disebut mengajarsedangkan perilaku siswa dinamakan belajar.

Penulis menilai bahwa metode pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam pembelajaran, guna menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, dalam rangka untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif setidaknya ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan belajar siswa, yakni (1) melibatkan siswa secara aktif, (2) menarik minat dan perhatian siswa, (3) membangkitkan motivasi siswa, (4) prinsip individualitas, serta (5) peragaan dalam pengajaran.

Berdasarkan rapor pendidikan, kualitas pembelajaran di SMP Kesatrian 1 mandapat nilai (sedang) dengan skor capaian kualitas pembelajaran pada tahun ini 62,07 turun 4,86 % dari tahun sebelumnya (skor 65,24%). Adapun yang perlu dibenahi adalah pada penggunaan metode dan model pembelajaran yang efektif dan mampu menciptakan pembelajaran  yang menyenangkan. sebagaimana yang terdapat pada info grafis berikut:



Sumber: https://raporpendidikan.kemdikbud.go.id/

(gambar I)

Menyikapi perihal di atas, diperlukan suatu perumusan dan pemilihan penggunaan metode yang tepat, terarah, efektif dan efisien dalam pembelajaran, agar proses pembelajaran akan benar-benar menghasilkan peserta didik yang berkepribadian, memiliki keterampilan dalam menjalani kehidupannya dengan baik.

Berdasarkan permasalahan tersebut, pada karya tulis ini Penulis mengambil judul Aplikasi model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti di SMP Kesatrian 1 Semarang, guna meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Dengan adanya model pembelajaran ini, siswa cenderung aktif untuk mengikuti pembelajaran di kelas karena semua siswa terlibat secara langsung. Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Think-Pair-Share (TPS) sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (Sahrudin, 2011). 

A.                Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang diatas, penulis menentukan pokok masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana Aplikasi Model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)?
  1. Apa saja kelebihan dan kelemahan dari penerapan metode Think Pair Share pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)? 

B.  PEMBAHASAN

Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini berbasis pembelajaran diskusi kelas.  Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya dari Universitas Maryland. Think Pair Share memiliki prosedur yang secara ekplisit dapat memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu sama lain. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara koooperatif. (http://www.WordPress.com)

Pembelajaran dengan think pare and share ini akan memberikan variasi tersendiri dalam lingkungan belajar siswa. Sardiman (2009: 151) mengemukakan bahwa salah satu cara terbaik untuk mengembangkan belajar yang aktif adalah memberikan tugas belajar yang diselesaikan dalam kelompok kecil siswa. Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam kelompoknya.  Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan guru, tidak seperti biasanya hanya siswa siswa tertentu saja yang menjawab.

Think Pair Share membantu menstrukturkan diskusi. Siswa mengikuti proses yang telah tertentu sehingga membatasi kesempatan berfikirnya yang melantur dan tingkah lakunya menyimpang karena mereka harus berfikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke mitranya. Think Pair Share meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya informasi yamg diingat siswa. Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam konteks yang tidak mendebarkan hati sebelum mengemukakan idenya ke dalam kelompok yang lebih besar. Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan guru. 

1.      Aplikasi Model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Think Pair Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplesit untuk memberi waktu lebih banyak pada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Model Think Pair Share (TPS) Sebagai ganti dari tanya jawab seluruh kelas, sebagai suatu model pemebelajaran TPS memiliki langkah-langkah tertentu. guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa berkesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

Lie (2011), mengemukakan Cooperative Learning adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.

Menurut Arends (dalam Trianto, 2010:65-66) bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri, yaitu:

1.        Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar.

2.        Kelompok   dibentuk   dari   siswa   yang   mempunyai  kemampuan   tinggi, sedang, dan rendah.

3.        Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam.

4.        Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.

Model pembelajaran Tipe Think Pair Share (TPS) terdiri atas lima langkah, dengan tiga langkah utama sebagai ciri khas, yaitu tahap pendahuluan Think, pair dan Share, penghargaan. Penjelasan dari setiap langkah-langkah adalah sebagai berikut.

A.      Pendahuluan

Pada tahap pendahuluan, guru melakukan apersepsi, dilanjutkan dengan penyajian ruang lingkup materi yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran. Kemudian mengaitkan materi dengan peristiwa keseharian yang dialami peserta didik, mengidentifikasi masalah dan menyampaikan masalah itu ke peserta didik untuk dipikirkan jawabannya. 

B.       Tahap Think (Thinking)

Proses think pair share dimulai pada saat guru melakukan Demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (Think time) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannnya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.

Guru  mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan berfikir.

C.       Tahap pairs (Pairing)

Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan gagasan masing- masing siswa.

Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa yang berpasangan. guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara sederhana.

D.      Tahap Share  (Sharing)

Guru meminta pasangan- pasangan untuk berbagi dengan kelompok berpasangan keseluruhan kelas. Hal ini efektif baik untuk guru  maupun siswa untuk mengetahui ide- ide dari pasangan, dan kegiatan sharing ini dilanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat hasil dari yang didiskusikan untuk dilaporkan atau dipresentasikan.

Pada tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka.

E.       Penghargaan

Pada tahap ini, guru memberi reward bagi siswa yang aktif dan partisipatif berupa nilai atau bentuk lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di pertemuan berikutnya. 

2.      Kelebihan dan kekurangan Model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pada implementasinya, masing- masing model pembelajaran tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Lie (2005: 46) mengemukakan bahwa kelebihan dari kelompok berpasangan (kelompok yang teridiri dari 2 orang siswa) adalah sebagai berikut: 1) akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, 2) cocok untuk tugas sederhana, 3) lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, 4) interaksi lebih mudah, dan 5) lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Selain itu, menurut Lie, keuntungan lain dari teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Adapun kekurangan dari penerapan model pembelajaran ini adalah 1) Lebih banyak kelompok yang akan lapor dan perlu dimonitor.. 2) Lebih sedikit ide yang muncul. 3)Jika ada masalah tidak ada penengah.

Dari uraian dapat dipahami bahwa dengan adanya kegiatan berpikir-berpasangan-berbagi dalam metode think-pair-share memberi banyak keuntungan. Siswa secara individual dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time) sehingga kualitas jawaban mahasiswa juga dapat meningkat.

Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena setiap siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah bicara di depan kelas paling tidak memberi ide atau jawaban kepada pasangannya. Keuntungan lainnya adalah pemahaman mahasiswa akan materi suatu pokok bahasan akan lebih mendalam.

Namun kekurangan Think Pair Share adalah pada fokus siswa yang mampu ditangani guru. Sebab dengan banyaknya siswa otomatis membuat guru harus pandai mengakomodasi semua kendala yang muncul. Selain itu, perbedaan pendapat yang muncul kadang kurang dapat diatasi, 

C.  KESIMPULAN

Berdasarkan pada pembahasan di atas, penulis menyimpul  kan sebagai berikut :

1.      Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS), merupakan suatu pembelajaran kooperatif yang memberikan kepada siswa waktu untuk berfikir dan merespon. Hal ini menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon pertanyaan serta menumbuhkan sikap saling membantu satu sama lain.

2.      Adapun kelebihan Model pembelajaran Think Pair Share adalah akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, interaksi lebih mudah, dan lebih mudah dan cepat membentuk kelompok.

Sementara kekurangan dalam penerapan Model pembelajaran Think Pair Share adalah  Lebih banyak kelompok yang akan lapor dan perlu dimonitor,  Lebih sedikit ide yang muncul. Jika ada masalah tidak ada penengah.

 

D.  PENUTUP           

Model pembelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur.   Pengertian lain mengatakan bahwa model pembelajaran merupakan teknik penyajian yang dikuasai oleh guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual ataupun secara kelompok agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.

Menurut hemat penulis, tidak ada model pembelajaran yang paling baik, karena setiap metode dan model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Namun yang ada adalah metode dan model pembelajaran yang tepat dengan mempertimbangan barbagai komponen pembelajaran misalnya materi, tujuan pembelajaran, gaya belajar siswa dan sebagainya..

Demikian, karya tulis ini kami buat, untuk kesempurnaan karya tulis ini saran kritik yang membangun sangat kami harapkan.      

 Menyikapi perihal di atas, diperlukan suatu perumusan dan pemilihan penggunaan metode yang tepat, terarah, efektif dan efisien dalam pembelajaran, agar proses pembelajaran akan benar-benar menghasilkan peserta didik yang berkepribadian, memiliki keterampilan dalam menjalani kehidupannya dengan baik.

Berdasarkan permasalahan tersebut, pada karya tulis ini Penulis mengambil judul Aplikasi model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti di SMP Kesatrian 1 Semarang, guna meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Dengan adanya model pembelajaran ini, siswa cenderung aktif untuk mengikuti pembelajaran di kelas karena semua siswa terlibat secara langsung. Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Think-Pair-Share (TPS) sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (Sahrudin, 2011). 

A.                Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang diatas, penulis menentukan pokok masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana Aplikasi Model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)?
  2. Apa saja kelebihan dan kelemahan dari penerapan metode Think Pair Share pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)? 

B.  PEMBAHASAN

Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini berbasis pembelajaran diskusi kelas.  Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya dari Universitas Maryland. Think Pair Share memiliki prosedur yang secara ekplisit dapat memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu sama lain. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara koooperatif. (http://www.WordPress.com)

Pembelajaran dengan think pare and share ini akan memberikan variasi tersendiri dalam lingkungan belajar siswa. Sardiman (2009: 151) mengemukakan bahwa salah satu cara terbaik untuk mengembangkan belajar yang aktif adalah memberikan tugas belajar yang diselesaikan dalam kelompok kecil siswa. Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam kelompoknya.  Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan guru, tidak seperti biasanya hanya siswa siswa tertentu saja yang menjawab.

Think Pair Share membantu menstrukturkan diskusi. Siswa mengikuti proses yang telah tertentu sehingga membatasi kesempatan berfikirnya yang melantur dan tingkah lakunya menyimpang karena mereka harus berfikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke mitranya. Think Pair Share meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya informasi yamg diingat siswa. Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam konteks yang tidak mendebarkan hati sebelum mengemukakan idenya ke dalam kelompok yang lebih besar. Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan guru. 

1.      Aplikasi Model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Think Pair Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplesit untuk memberi waktu lebih banyak pada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Model Think Pair Share (TPS) Sebagai ganti dari tanya jawab seluruh kelas, sebagai suatu model pemebelajaran TPS memiliki langkah-langkah tertentu. guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa berkesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

Lie (2011), mengemukakan Cooperative Learning adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.

Menurut Arends (dalam Trianto, 2010:65-66) bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri, yaitu:

1.        Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar.

2.        Kelompok   dibentuk   dari   siswa   yang   mempunyai  kemampuan   tinggi, sedang, dan rendah.

3.        Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam.

4.        Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.

Model pembelajaran Tipe Think Pair Share (TPS) terdiri atas lima langkah, dengan tiga langkah utama sebagai ciri khas, yaitu tahap pendahuluan Think, pair dan Share, penghargaan. Penjelasan dari setiap langkah-langkah adalah sebagai berikut.

A.      Pendahuluan

Pada tahap pendahuluan, guru melakukan apersepsi, dilanjutkan dengan penyajian ruang lingkup materi yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran. Kemudian mengaitkan materi dengan peristiwa keseharian yang dialami peserta didik, mengidentifikasi masalah dan menyampaikan masalah itu ke peserta didik untuk dipikirkan jawabannya. 

B.       Tahap Think (Thinking)

Proses think pair share dimulai pada saat guru melakukan Demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (Think time) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannnya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.

Guru  mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan berfikir.

C.       Tahap pairs (Pairing)

Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan gagasan masing- masing siswa.

Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa yang berpasangan. guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara sederhana.

D.      Tahap Share  (Sharing)

Guru meminta pasangan- pasangan untuk berbagi dengan kelompok berpasangan keseluruhan kelas. Hal ini efektif baik untuk guru  maupun siswa untuk mengetahui ide- ide dari pasangan, dan kegiatan sharing ini dilanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat hasil dari yang didiskusikan untuk dilaporkan atau dipresentasikan.

Pada tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka.

E.       Penghargaan

Pada tahap ini, guru memberi reward bagi siswa yang aktif dan partisipatif berupa nilai atau bentuk lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di pertemuan berikutnya. 

2.      Kelebihan dan kekurangan Model pembelajaran Think Pair Share pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pada implementasinya, masing- masing model pembelajaran tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Lie (2005: 46) mengemukakan bahwa kelebihan dari kelompok berpasangan (kelompok yang teridiri dari 2 orang siswa) adalah sebagai berikut: 1) akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, 2) cocok untuk tugas sederhana, 3) lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, 4) interaksi lebih mudah, dan 5) lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Selain itu, menurut Lie, keuntungan lain dari teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Adapun kekurangan dari penerapan model pembelajaran ini adalah 1) Lebih banyak kelompok yang akan lapor dan perlu dimonitor.. 2) Lebih sedikit ide yang muncul. 3)Jika ada masalah tidak ada penengah.

Dari uraian dapat dipahami bahwa dengan adanya kegiatan berpikir-berpasangan-berbagi dalam metode think-pair-share memberi banyak keuntungan. Siswa secara individual dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time) sehingga kualitas jawaban mahasiswa juga dapat meningkat.

Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena setiap siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah bicara di depan kelas paling tidak memberi ide atau jawaban kepada pasangannya. Keuntungan lainnya adalah pemahaman mahasiswa akan materi suatu pokok bahasan akan lebih mendalam.

Namun kekurangan Think Pair Share adalah pada fokus siswa yang mampu ditangani guru. Sebab dengan banyaknya siswa otomatis membuat guru harus pandai mengakomodasi semua kendala yang muncul. Selain itu, perbedaan pendapat yang muncul kadang kurang dapat diatasi, 

C.  KESIMPULAN

Berdasarkan pada pembahasan di atas, penulis menyimpul  kan sebagai berikut :

1.      Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS), merupakan suatu pembelajaran kooperatif yang memberikan kepada siswa waktu untuk berfikir dan merespon. Hal ini menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon pertanyaan serta menumbuhkan sikap saling membantu satu sama lain.

2.      Adapun kelebihan Model pembelajaran Think Pair Share adalah akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, interaksi lebih mudah, dan lebih mudah dan cepat membentuk kelompok.

Sementara kekurangan dalam penerapan Model pembelajaran Think Pair Share adalah  Lebih banyak kelompok yang akan lapor dan perlu dimonitor,  Lebih sedikit ide yang muncul. Jika ada masalah tidak ada penengah.

 

D.  PENUTUP           

Model pembelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur.   Pengertian lain mengatakan bahwa model pembelajaran merupakan teknik penyajian yang dikuasai oleh guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual ataupun secara kelompok agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.

Menurut hemat penulis, tidak ada model pembelajaran yang paling baik, karena setiap metode dan model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Namun yang ada adalah metode dan model pembelajaran yang tepat dengan mempertimbangan barbagai komponen pembelajaran misalnya materi, tujuan pembelajaran, gaya belajar siswa dan sebagainya..

Demikian, karya tulis ini kami buat, untuk kesempurnaan karya tulis ini saran kritik yang membangun sangat kami harapkan.            


DAFTAR PUSTAKA

  

Sahrudin. 2011. Model Pembelajaran Think Pair and Share (TPS). Tersedia pada http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-think-pair-and- share.html diakses pada tanggal 19 januari 2013.

 

Sardiman,   A.M.   2011.    Interaksi    dan    Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers

 

Jones. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

 

Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

 

https://raporpendidikan.kemdikbud.go.id/

 

http://www.WordPress.com

Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran

Pengembangan     Wacana     dan     Praktik      Pembelajaran    

Dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.

 

Trianto.   2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Prenada Media Group.

 

 

Sahrudin. 2011. Model Pembelajaran Think Pair and Share (TPS). Tersedia pada http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-think-pair-and- share.html diakses pada tanggal 19 januari 2013.

 

Sardiman,   A.M.   2011.    Interaksi    dan    Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers

 

Jones. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

 

Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

 

https://raporpendidikan.kemdikbud.go.id/

 

http://www.WordPress.com

Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran

Pengembangan     Wacana     dan     Praktik      Pembelajaran    

Dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.

 

Trianto.   2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Prenada Media Group.

 




Comments

Kunjungan

Flag Counter