KEPEMIMPINAN YANG TERINSPIRASI DARI PRINSIP OLAH RAGA PANAHAN

 KEPEMIMPINAN YANG TERINSPIRASI 

DARI PRINSIP OLAH RAGA PANAHAN

 

Oleh:
 Ning Mulyati, S.Pd

Kepala SMP Kesatrian 1 Semarang

ABSTRAK

 

Mulyati, Ning. 2024.  Menyongsong Kesuksesan : Kepemimpinan yang Terinspirasi dari Prinsip      Olahraga Panahan. Best Practice.

Best Practice ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis pada dunia olahraga panahan, terutama pada prinsip-prinsip yang harus dikuasai oleh seorang pemanah agar menjadi atlet yang berprestasi. Selain itu penulis juga mengamati prestasi sekolah yang dalam kurun waktu tiga tahun terakhir belum ada peningkatan yang signifikan, bahkan justru mengalami penurunan dalam penerimaan jumlah siswa. Mengkaitkan antara keduanya, penulis mencoba menerapkan pola kepemimpinan yang terinspirasi dari prinsip-prinsip dalam cabang olahraga panahan dalam bentuk laporan best practice. Meski kepemimpinan kepala sekolah bukan sebagai satu-satunya faktor penentu kesuksesan sebuah sekolah, namun kepala sekolah yang inovatif, bisa mengubah iklim sekolah menjadi lebih baik. Tujuan dalam penulisan laporan best practice ini adalah untuk menggali lebih dalam mengenai praktik baik kepala sekolah di SMP Kesatrian 1 Semarang dalam meningkatkan prestasi sekolah serta minat masyarakat terhadap pendidikan, dengan menggunakan prinsip-prinsip dalam olah raga panahan sebagai panduan. Laporan best practice ini diharapakan bermanfaat sebagai salah satu referensi tentang gaya kepemimpinan bagi calon-calon pemimpin SMP Kesatrian 1 Semarang di masa depan. Harapannya dengan gaya kepemimpinan yang baik , maka akan mampu megembalikan kesusksesan di SMP Kesatrian 1 Semarang, yang salah satunya ditandai dengan perolehan siswa baru yang selalu meningkat dari tahun ke tahun, prestasi akademik dan non akademik yang terus meningkat, serta siap untuk merealisasikan SMP Kesatrian 1 Semarang sebagai Sekolah Berstandar Nasional Plus. Prinsip-prinsip dalam olahraga panahan  antara lain konsentrasi tinggi, fokus dan ketepatan, ketenangan dalam menghadapi tantangan, memperhatikan detail hingga hal terkecil dan selalu siap untuk beradaptasi. Relevansi antara prinsip dalam olahraga panahan dengan pola kepemimpinan antara lain memiliki visi yang jelas,mengembangkan konsentrasi dan fokus, menjaga ketenangan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, mendorong kolaborasi dan teamwork serta adaptasi dan inovasi. Dengan menerapkan pola kepemimpinan yang terinspirasi oleh prinsip dalam olahraga panahan, sekolah dapat meningkatkan jumlah siswa dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Dari peningkatan reputasi sekolah hingga penggunaan teknologi dan media sosial, pola kepemimpinan ini menawarkan berbagai cara untuk menarik minat calon siswa dan orang tua. Dengan fokus pada kualitas pengajaran, transparansi, dan program yang menarik, sekolah dapat mencapai peningkatan yang signifikan dalam jumlah siswa yang mendaftar.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG

Kepemimpinan  adalah sebuah konsep yang telah lama diperdebatkan dan dianalisis dalam berbagai konteks, baik itu dalam bidang bisnis, politik, maupun pendidikan. Bagi SMP Kesatrian 1 Semarang, kepemimpinan yang kuat dan terarah sangatlah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal bagi siswa. Namun menciptakan pemimpin yang efektif tidaklah mudah. Diperlukan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip kepemimpinan yang dapat menginpirasi dan membimbing para pemimipin muda untuk mencapai kesuksesan.

Sebagai salah satu institusi pendidikan yang berperan dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa, SMP Kesatrian 1 Semarang memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan mampu bersaing di era globalisasi saat ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, peran seorang pemimpin yang visioner, inspiratif, dan mampu memberikan contoh teladan, sangatlah krusial. Kepemimpinan di sekolah tidak hanya terbatas pada kepala sekolah saja, namun juga mencakup peran guru-guru, staf administrasi, dan bahkan siswa-siswa yang memegang peran kepemimpinan di lingkungan sekolah.

Sebuah sekolah, khususnya SMP Kesatrian 1 Semarang, adalah tempat di mana benih-benih masa depan ditanam dan dipelihara. Agar benih-benih ini dapat tumbuh optimal menjadi generasi yang gemilang, diperlukan pemimpin yang mampu memimpin dengan bijaksana, dan menginpirasi seluruh komunitas sekolah. Di tengah dinamika pendidikan modern, peran seorang kepala sekolah bukan hanya tentang administrasi dan manajemen, tetapi juga tentang membimbing, mendorong, dan menggerakkan sekolah menuju keunggulan, sejalan dengan rencana Yayasan Pendidikan Kesatrian 67 Semarang, untuk menjadikan SMP  Kesatrain 1 Semarang sebagai Sekolah Berstandar Nasional Plus.

Dalam setiap perjalanan menuju kesuksesan,terdapat beragam elemen yang menjadi fondasi bagi pencapaian tujuan yang diinginkan. Begitu pula dalam dunia pendidikan, peran seorang pemimpin sangatlah vital untuk membawa institusi sekolah menuju  ke arah kemajuan yang diharapkan.

Kepala sekolah di lingkungan Yayasan Pendidikan Kesatrian 67 Semarang, mekanisme pemilihannya adalah berdasarkan penilaian kinerja dan prestasi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebelumnya, kemudian diajukan ke Dinas Pendidikan. Tahap berikutnya, pihak Dinas Pendidikan akan mengikutsertakan calon kepala sekolah untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan (BBMP) provinsi Jawa Tengah , guna meningkatkan kompetensi dan mendapatakan Nomor Register Kepala Sekolah (NRKS). Kepala sekolah memiliki masa kerja 4 tahun untuk satu periode dan bisa diperpanjang sampai dua periode jika berprestasi dan memenuhi syarat lainnya.

Berdasarkan pengamatan penulis, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, SMP Kesatrian 1 Semarang mengalami penurunan jumlah siswa yang mendaftar dan diterima, cukup signifikan, meski hal ini bukan dipengaruhi secara langsung oleh kepemimpinan kepala sekolahnya, namun ini merupakan isu yang menjadi perhatian utama bagi SMP Kesatrian 1 Semarang. Hal ini tidak hanya berdampak pada keuangan sekolah, tetapi juga pada reputasi dan daya saing SMP Kesatrian 1 Semarang di tingkat lokal maupun regional. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin menjadi penyebab penurunan ini agar dapat diatasi dengan tepat.

 

B.  IDENTIFIKASI MASALAH

Berangkat dari latar belakang di atas, penulis mencoba mengidenfitikasi masalah-masalah yang mungkin menjadi penyebab penurunan perolehan siswa baru pada PPDB tiga tahun terakhir di SMP Kesatrian 1 Semarang. Berikut ini adalah beberapa factor yang mungkin jadi penyebab turunnya jumlah siswa lam kurun waktu 3 tahun terakhir:

1.    Pengelolaan Citra dan Branding Sekolah.

Salah satu faktor yang mungkin menjadi penyebab penurunan perolehan siswa baru adalah kurangnya pengelolaan citra dan branding sekolah secara efektif. Citra sekolah yang kurang menarik atau kurang dikenal di masyarakat dapat mengurangi minat calon siswa untuk mendaftar di SMP Kesatrian 1 Semarang. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya promosi dan pemasaran yang dilakukan oleh sekolah, serta kurangnya upaya untuk memperkuat identitas dan citra sekolah di mata masyarakat.  Bisa jadi sekolah sudah melakukan berbagai jenis promosi, namun belum efektif dan belum tepat sasaran.

2.    Kualitas Pendidikan dan Prestasi Akademik.

Penurunan jumlah siswa baru juga bisa menjadi indikasi adanya masalah dalam kualitas pendidikan dan prestasi akademik SMP Kesatrian 1 Semarang. Jika sekolah tidak mampu memberikan pendidikan yang berkualitas dan tidak mampu menghasilkan prestasi akademik yang membanggakan, maka orang tua calon siswa mungkin akan memilih untuk mendaftar di sekolah lain yang dianggap lebih unggul dalam hal ini. 

3.    Kurangnya Program dan Fasilitas Ekstrakurikuler yang Menarik.

Program dan fasilitas ekstrakurikuler yang menarik juga dapat menjadi faktor penentu bagi calon siswa dalam memilih sekolah. Jika SMP Kesatrian 1 Semarang tidak memiliki program ekstrakurikuler yang beragam dan menarik minat siswa, maka hali ini dapat menjadi alasan bagi calon siswa  untuk memilih sekolah lain yang menawarkan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat mereka di luar akademik.

4.    Kurangnya Kepemimpinan yang Terinspirasi

Kepemimpinan yang kuat dan inspiratif sangatlah penting dalam mengarahkan visi dan misi sekolah serta memotivasi seluruh stakeholder, termasuk guru, staf, siswa, dan orang tua, untuk bekerja menuju pencapaian tujuan bersama. Jika kepemimpinan di SMP Kesatrian 1 Semarang dinilai kurang efektif atau kurang terinspirasi, hal ini dapat berdampak negatif pada kinerja sekolah secara keseluruhan dan mengurangi minat calon siswa baru untuk bergabung.

5.    Ketidaksesuaian Antara Program Sekolah  dan Tuntutan Perkembangan Jaman.

Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, ada kebutuhan untuk menyelaraskan program sekolah dengan tuntutan perkembangan jaman yang terus berubah. Jika program SMP Kesatrian 1 Semarang dianggap tidak relevan atau tidak memadai dalam mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan perkembangan jaman, maka hal ini dapat menjadi alasan bagi calon siswa dan orang tua untuk memilih sekolah lain yang menawarkan program sekolah yang lebih sesuai dengan kebutuhan jaman.

Dengan memahami dan mengidentifikasi akar permasalahan yang ada, sekolah dapat mengambil langkah-langkah strategis yang tepat untuk meningkatkan daya tarik dan reputasi sekolah, serta meningkatkan minat dan kepercayaan masyarakat untuk bergabung.

       Dari masalah-masalah yang diuraikan di atas dan berbekal sedikit pengetahuan tentang olah raga panahan, serta prinsip-prinsip dalam olah raga panahan, penulis merasa terinspirasi dengan prinsip- prinsip dalam cabang olah raga panahan, dan mencoba menulis laporan Best Practice judul “Menyongsong Kesuksesan : Kepemimpinan yang Terinspirasi dari Prinsip Olahraga Panahan”

C.  TUJUAN

Tujuan dalam penulisan laporan best practice ini adalah untuk menggali lebih dalam mengenai praktik baik kepala sekolah di SMP Kesatrian 1 Semarang dalam meningkatkan prestasi sekolah serta minat masyarakat terhadap pendidikan, dengan menggunakan prinsip-prinsip dalam olah raga panahan sebagai panduan. Melalui pembahasan yang mendalam, diharapkan pembaca dapat memperoleh wawasan yang berharga mengenai bagaimana prinsip-prinsip dalam olah raga panahan dapat diaplikasikan dalam konteks pendidikan, serta dampak positifnya terhadap kesuksesan sekolah.

 

D.  MANFAAT

Laporan best practice ini diharapakan bermanfaat sebagai salah satu referensi tentang gaya kepemimpinan bagi calon-calon pemimpin  SMP Kesatrian 1 Semarang di masa depan. Harapannya dengan gaya kepemimpinan yang baik , maka akan mampu mengembalikan kesusksesan di SMP Kesatrian 1 Semarang, yang salah satunya ditandai dengan perolehan siswa baru yang selalu meningkat dari tahun ke tahun, prestasi akademik dan non akademik yang terus meningkat, serta siap untuk merealisasikan SMP Kesatrian 1 Semarang sebagai Sekolah Berstandar Nasional Plus. 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.  KOMPETENSI  KEPALA SEKOLAH

Berdasarkan Peraturan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan  Nomor 7327 tahun 2023 tentang Model Kompetensi Kepala Sekolah, seorang kepala sekolah harus memiliki 3 kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.

Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan kepala sekolah dalam menunjukkan kualitas diri melalui kematangan moral,emosi, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik, pengembangan diri melalui kebiasaan refleksi, dan memiliki orientasi berpusat pada peserta didik.

Kompetensi sosial yaitu, kemampuan kepala sekolah untuk meberdayakan warga satuan pendidikan, berkolaborasi dengan warga satuan pendidikan dan masyarakat, serta terlibat dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan.

Kompetensi profesional yaitu  kemampuan kepala sekolah untuk mengembangkan visi dan budaya belajar satuan pendidikan, menerapkan kepemimpinan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, serta mengelola sumber daya secara efektif, transparan, dan akuntabel.

Masing-masing kompetensi memuat tiga indikator kompetensi yang mengikuti urutan penomoran setiap kompetensi. Selanjutnya, setiap indikator kompetensi terdiri atas beberapa sub indikator yang mengacu pada penomoran setiap lingkup indikator kompetensi, sebagaimana tercantum dalam table 1.

Tabel 1. Kompetensi, Indikator, dan Sub Indikator Kompetensi

Kompetensi

Indikator Kompetensi

Sub Indikator Kompetensi

 

 

 

 

 

 

1. Kepribadian

 

 

1.1. Kematangan moral, emosi, dan spiritual dalam berperilaku sesuai dengan kode etik.

1.1.1. Makna, tujuan, dan pandangan hidup kepemimpinan satuan pendidikan berdasarkan prinsip moral dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam memimpin satuan pendidikan.

 

 

 

1.1.2. Pengelolaan emosi dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

1.1.3. Penerapan kode etik dalam menjalankan tugas dan peran

 

 

 

1.2.1. Refleksi dan perencanaan kebutuhan pengembangan diri untuk peningkatan kepemimpinan satuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik.

 

 

1.2.      Pengem bangan diri melalui kebiasaan refleksi.

1.2.2. Cara adaptif melakukan pengembangan diri untuk meningkatkan kepemimpinan satuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik.

 

 

 

1.2.3. Penerapan hasil pengembangan diri yang berkelanjutan untuk perbaikan kualitas kepemimpinan satuan pendidikan.

 

 

1.3.      Orientasi berpusat pada peserta didik.

1.3.1. Empati  terhadap peserta didik dalam pengambilan      keputusan.

 

 

 

1.3.2. Respek terhadap hak peserta didik dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah.

 

 

 

1.3.3. Kepedulian terhadap keselamatan dan keamanan peserta didik sebagai individu dan kelompok dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah.

 

2.      Sosial

2.1. Pemberday aan warga satuan pendidikan untuk meningkatk an kualitas pembelajara n.

2.1.1. Pemberdayaan guru dan tenaga kependidikan untuk peningkatan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan .

 

 

 

 

2.1.2. Pemberdayaan orang tua/wali untuk peningkatan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan.

 

 

2.2. Kolaborasi untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan

2.2.1. Komunikasi efektif dengan warga satuan pendidikan yang mengarah pada peningkatan kualitas satuan pendidikan.

 

 

 

2.2.2. Pengorganisasian tugas-tugas bersama warga satuan pendidikan untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan.

 

 

 

2.2.3. Inisiatif berkontribusi untuk mencapai tujuan bersama dalam peningkatan kualitas satuan pendidikan.

 

 

 

 

2.3.Keterlibatan dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan.

2.3.1. Berpartisipasi aktif dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan kualitas kepemimpinan di satuan pendidikan.

 

 

 

 

2.3.2. Berbagi praktik baik dan karya tentang kepemimpinan satuan pendidikan untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik.

 

 

3.1. Pengemba ngan visi dan budaya     belajar satuan pendidikan

 

3.1.1. Kepemimpinan satuan pendidikan dalam mewujudkan visi yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan warga satuan pendidikan.

 

3. Profesional

 

3.1.2. Pengembangan kebiasaan belajar sebagai cerminan visi satuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik.

 

 

 

3.1.3. Pengelolaan komunitas belajar dalam satuan pendidikan yang berbasis data dengan berorientasi pada peningkatan capaian belajar peserta didik.

 

 

3.2.

Kepemimpi nan pembelajar an yang berpusat pada peserta didik.

3.2.1. Kepemimpinan pembelajaran dalam membudayakan lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif untuk warga satuan pendidikan.

 

 

 

 

3.2.2. Kepemimpinan pembelajaran dalam perencanaan, pelaksanaan, asesmen, dan pelaporan capaian belajar peserta didik dengan memperhatikan karakteristik guru.

 

 

3.3. Pengelolaa n sumber daya satuan pendidikan secara efektif, transparan, dan akuntabel

3.3.1. Penelusuran sumber daya satuan pendidikan yang berasal dari berbagai sumber untuk perencanaan dan pelaksanaan program.

 

 

 

3.3.2. Pengelolaan sumber daya satuan pendidikan secara efektif untuk peningkatan pembelajaran peserta didik.

 

 

 

 

3.3.3. Pengelolaan sumber daya satuan pendidikan secara transparan dan akuntabel.

 

 

B.  PRINSIP-PRINSIP DALAM OLAH RAGA PANAHAN.

Panahan merupakan cabang olahraga yang menggunakan busur sebagai alat menembak anak panah yang diarahkan pada sebuah target dengan jarak tertentu. Olahraga panahan merupakan olahraga yang membutuhkan  konsentrasi, fokus, ketepatan, dan ketenangan dalam setiap tembakan Beberapa prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemanah yaitu :

1.      Konsentrasi Tinggi

Seorang pemanah perlu memiliki konsentrasi tinggi untuk mengarahkan panahnya dengan akurat ke sasaran. Sebelum melesatkan anak panah ke papan sasaran, hal penting yang harus dilakukan oleh seorang pemanah adalah memiliki ketenangan pikiran. Caranya adalah dengan membiasakan diri untuk rileks dan menjaga pikiran.

2.      Fokus dan Ketepatan

Dalam olahraga panahan, fokus dan ketepatan sangat penting untuk mencapai hasil yang diinginkan. Fokus dan ketepatan dapat dilatih dengan belajar mengendalikan napas. Dalam olahraga panahan, bernapas bukan sekedar menghirup dan mengeluarkan udara seperti biasa. Seorang atlet panahan harus tahu bagaimana mengendalikan napas karena sangat menentukan tepat tidaknya anak panah mengenai sasaran.

3.      Ketengan dalam Menghadapi Tantangan

Seorang pemanah perlu menjaga ketenangan pikiran, bahkan dalam situasi yang menantang. Tenang adalah sebuah keadaan pikiran, berarti siapapun bisa melakukannya, caranya dengan mengasahnya lewat latihan, misalnya dengan meningkatkan ketenangan lewat kehidupan sehari-hari, seperti fokus berpikir pada hal-hal yang penting saja, membuang rasa takut atau kurang percaya diri.

4.      Memperhatikan Detail Hingga yang Terkecil.

Seorang atlet panahan selalu dilatih menyempurnakan fokus mereka dan mengurangi berbagai faktor yang bisa berpengaruh pada menurunnya tingkat akurasi. Selain pengecekan alat dan detail dari alat yang akan digunakan, ketelitian sangat menentukan keberhasilan seorang pemanah untuk melesatkan anak panah mencapai target sasaran

5.      Selalu Siap untuk Beradaptasi.

Dalam olahraga panahan, setiap hembusan dan kecepatan angin akan menentukan cara membidik sasaran. Untuk itu para atlet harus selalu siap dengan setiap perubahan tersebut, sekaligus mempersiapkan cara untuk menghadapinya.

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

A.      RELEVANSI PRINSIP DALAM OLAH RAGA PANAHAN DENGAN SIKAP KEPEMIMPINAN.

Prinsip dalam olahraga panahan tidak hanya berkaitan dengan teknik memanah, namun juga memiliki relevansi yang mendalam dengan konsep kepemimpinan. Dalam olahraga panahan, seorang pemanah harus memiliki fokus yang tinggi, konsentrasi yang mendalam, kesabaran, ketepatan, dan keuletan untuk mencapai sasaran yang dituju. Demikian pula dala kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu mengarahkan visi, mempertahankan fokus, bersabar dalam menghadapi tantangan, dan gigih dalam memcapai tujuan.

Salah satu hal penting yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin adalah memiliki tingkat akurasi dan presisi yang tajam. Bukan hanya dalam mengambil keputusan, kemampuan dalam menuntun tim menuju kesuksesan juga menjadi salah satu pertimbangan bagi orang lain dalam memandang seorang pemimpin.

Bicara mengenai ketajaman dalam akurasi dan presisi, ternyata atlet panahan juga memiliki kemiripan. Hali ini dilakukan sebagai cara untuk meningkatkan skill memanah mereka agar semakin tajam dan tepat sasaran.

Ketika prinsip-prinsip dalam olahraga panahan diterapkan dalam konteks kepemimpinan pendidikan, kita dapat melihat sejumlah keterkaitan yang signifikan. Seorang kepala sekolah yang mempraktikkan prinsip-prinsip ini akan :

1.    Memiliki Visi yang Jelas

Seperti seorang pemanah yang mengarahkan anak panahnya ke sasaran dengan jelas, seorang kepala sekolah yang efektif memiliki visi yang jelas tentang keberhasilan sekolah dan arah yang ingin dicapai.   Visi yang jelas merupakan pondasi yang kuat bagi kepala sekolah untuk memotivasi, mengarahkan, dan mengispirasi staf, guru, siswa, serta semua pemangku kepentingan sekolah.

Berikut adalah beberapa penjelasan tentang mengapa kepala sekolah perlu memilki visi yang jelas dalam konteks ini :

a.       Mengarahkan Tujuan dan Prioritas.

Visi yang jelas membantu kepala sekolah untuk menetapkan tujuan jangka Panjang yang berarti bagi sekolah. Dalam prinsip olahraga panahan, atlet harus memiliki tujuan yang jelas tentang sasaran yang ingin dicapai. Demikian pula dengan visi yang jelas, kepala sekolah dapat menetapkan prioritas yang jelas dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut.

b.      Memberikan Orientasi

Visi yang jelas memberikan arah yang jelas bagi semua pemangku kepentingan di sekolah. Ini membantu menciptakan konsistensi dan kejelasan dalam tindakan dan keputusan yang diambil di seluruh sekolah. Misalnya, dalam olahraga panahan, setiap Gerakan memiliki tujuan yang terkait dengan mencapai sasaran yang ditetapkan.

c.       Menginspirasi dan Memotivasi.

Visi yang jelas mampu mengispirasi dan memotivasi staf, guru dan siswa untuk bekerja menuju kesuksesan. Ketika semua orang di sekolah memahami tujuan yang ingin dicapai dan merasa termotivasi untuk mencapainaya, kinerja dan semangat kerja meningkat. Ini mirip dengan bagaiman atlet terinspirasi oleh tujuan yang ingin mereka capai dalam olahraga panahan.

d.      Membangun Identitas Sekolah.

Visi yang jelas membantu membangun identitas sekolah yang kuat. Ini membantu menciptakan budaya sekolah yang kohesif, di mana semua warga sekolah merasa terlibat dan berkontribusi pada pencapaian tujuan bersama. Dalam olahraga panahan, setiap tim memiliki identitas yang unik yang terkait dengan tujuan dan nilai-nilai yang ingin dicapai.

e.       Menyediakan Landasan untuk Perubahan dan Inovasi.

Visi yang jelas memberikan landasan yang kokoh untuk perubahan dan inovasi sekolah. Ketika semua orang memiliki pemahaman yang mendalam tentang visi tersebut, mereka lebih mampu beradaptasi dan berinovasi dalam mencapai tujuan tersebut. Ini penting karena lingkungan pendidikan selalu berubah, dan kepala sekolah harus dapat mengarahkan sekolah melalui perubahan tersebut dengan mempertahankan visi yang jelas.

2.    Mengembangkan Konsentrasi dan Fokus Antara Staf, Guru dan Siswa.

Seorang  pemimpin yang mempraktikkan prinsip-prisip olahraga panahan dalam kepemimpinannya, akan membantu staf, guru dan siswa untuk mengembangkan konsentrasi dan fokus yang tinggi dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan menerapkan prinsip olahraga panahan, seorang kepala sekolah dapat membentuk lingkungan di sekolah yang didasarkan pada konsentrasi, fokus, pengembangan ketrampilan mental, pencapaian tujuan, dan ketangguhan dalam menghadapi rintangan. Ini akan membentu menciptakan budaya belajar yang positif dan produktif di antara staf, guru dan siswa.

Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan dalam mengembangkan konsentrasi dan focus diantara staf, guru dan siswa:

a.       Pentingnya Konsentrasi.

Panahan adalah olahraga yang membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Seorang pemanah harus fokus sepenuhnya pada sasaran mereka, mengabaikan gangguan dan distraksi di sekitarnya. Demikian pula seorang kepala sekolah yang mempraktikkan prinsip-prinsip ini akan mengajarkan nilai-nilai konsentrasi kepada staf, guru dan siswa. Mereka akan belajar untuk fokus pada tujuan mereka tanpa terpengaruh oleh gangguan eksternal.

b.      Pengembangan Ketrampilan Mental.

Panahan tidak hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kekuatan mental. Seorang pemanah harus memiliki kontrol yang baik atas pikiran dan emosi mereka untuk mencapai konsistensi dan keunggulan dalam olahraga. Seorang kepala sekolah yang mengaplikasikan prinsip ini ,akan mengajarkan staf, guru dan siswa untuk mengembangkan ketrampilan mental yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dan tekanan dalam lingkunagn pendidikan.

c.       Pencapaian Tujuan dengan Fokus.

Dalam olahraga panahan, mencapai target membutuhkan fokus yang tinggi. Seorang kepala sekolah yang mengaplikasikan prinsip ini, akan mengajarkan pentingnya menetapkan tujuan yang jelas dan bekerja menuju tujuan mereka dengan fokus yang tak tergoyahkan. Ini akan membantu staf, guru dan siswa untuk bekerja dengan tekun menuju pencapaian tujuan pendidikan mereka.

d.      Mengatasi Rintangan dan Frustasi

Dalam olahraga panahan, seorang pemanah harus belajar untuk mengatasi rintangan dan kegagalan dengan sikap yang posisitf. Begitu juga seorang kepala sekolah yang menerapkan prinsip ini, akan mengajarkan staf, guru dan siswa untuk melihat kegagalan sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh, bukan sebagai hambatan yang tidak dapat diatasi.

3.    Menjaga Ketenangan dan Ketepatan dalam Pengambilan Keputusan

Dalam menghadapi tantangan dan situasi yang kompleks, seorang kepala sekolah perlu menjaga ketenangan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, mirip dengan seorang pemanah yang mengambil tembakan dengan mantap dan tepat. Dalam setiap langkah yang diambil, kepala sekolah harus menunjukkan konsentrasi yang tinggi dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, seperti seorang pemanah yang mengarahkan anak panahnya dengan presisi ke sasaran,. Keputusan yang diambil memiliki tujuan yang jelas dan dampak yang pisistif bagi sekolah. Dengan pendekatan yang bijaksana dan berdasarkan data, kepala sekolah harus mampu mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan dan mengambil tindakan yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

Dalam olahraga panahan, ketenangan sangat penting untuk mencapai hasil terbaik. Seorang pemanah harus dapat mengendalikan emosinya, terutama saat meenghadapai tekanan atau situasi yang menantang. Demikian pula seorang pemimpin atau kepala sekolah perlu menjaga ketenangan dalam menghadapi berbagai situasi di sekolah. Dengan tetap tenang, maka dapat berpikir secara jernih, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan membri contoh yang positif bagi seluruh warga sekolah.

Ketepatan seorang pemanah dalam mencapai target dengan tepat sangatlah penting bagi seorang pemanah. Beberapa faktor yang harus diperhatikan seperti jarak, arah angin, kondisi cuaca, kelengkapan dan kondisi alat,sudah dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk melepaskan anak panah. Begitu pula seorang pemimpin atau kepala sekolah perlu membuat keputusan yang tepat dan terukur, harus mempertimbangkan berbagai informasi dan masukan sebelum mengambil langkah, agar keputusan yang diambil memberikan hasil yang positif bagi sekolah dan warga sekolah.

Dengan menggabungkan prinsip ini, kepala sekolah akan menjadi pemimpin yang efektif, mampu menghadapi berbagai tantangan dengan tenang, serta membuat keputusan yang tepat dan berdampak positif bagi kemajuan sekolah dan seluruh komunitas pendidikan.

4.    Mendorong Kolaborasi dan Teamwork.

Salah satu aspek penting dalam prinsip olahraga panahan adalah kerja tim. Bila timnya solid, maka peluang untuk memangkan pertandingan sangat besar. Kolaborasi dan teamwork adalah elemen kunci dalam prinsip olahraga panahan yang dapat diterapkan dalam kontekas pendidikan.  Kepala sekolah dapat menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dengan mendorong diskusi terbuka, pertukaran ide, dan kerja tim.

Seorang kepala sekolah juga harus bisa mndorong kolaborasi dan teamwork diantara staf,guru dan siswa, serta orang tua siswa untuk mencapai tujuan bersama. Melalui pembentukan hubungan yang kuat dan kemitraan yang erat dengan masyarakat, akan bisa menciptakan lingkungan belajar inklusif dan mendukung bagi semua warga sekolah.

5.    Adaptasi dan Inovasi

Dalam olahraga panahan, seorang atlet harus mampu mengadaptasi diri dengan cepat terhadap perubahan kondisi, serta mengembangkan teknik-teknik baru untuk meningkatkan kinerja. Demikian pula seorang pemimpin atau kepala sekolah harus bersikap responsive terhadap perubahaan dalam dunia pendidikan dan masyarakat, serta terus mengembangkan inovasi untuk meningkatkan kualitas sekolah yang dipimpinnya.

Dengan memanfaatkan teknologi dan metode pembelajaran terkini, kepala sekolah harus bisa memastikan bahwa sekolah ini tetap relevan dan kompetitif dalam era yang terus berkembang ini.

B.  LANGKAH KONKRET DALAM MENGADOPSI PRINSIP OLAHRAGA PANAHAN UNTUK KEMAJUAN SEKOLAH

Setelah memahami konsep dan prinsip-prinsip dalam olahraga panahan yang dapat diadopsi dalam kepemimipinan sekolah, saatnya untuk mengidentifikasi langkah-langkah konkret yang dapat diambil oleh kepala sekolah dan staf dalam menerapkannya. Beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan dalam mengadopsi prinsip panahan bagi kemajuan sekolah adalah sebagai berikut:

1.    Pengembangan Visi dan Strategi Jangka Panjang

Langkah pertama dalam mengadopsi prinsip olahraga panahan adalah mengembangkan visi yang jelas dan strategi jangka panjang untuk mencapainya. Kepala sekolah  bekerja sama dengan seluruh warga sekolah dan komite untuk merumuskan visi yang inspiratif dan tujuan yang terukur. Setelah visi ditetapkan, strategi jangka       panjang  dirancang dengan cermat, memperhitungkan tantangan dan peluang yang dihadapi sekolah. Dalam hal ini, SMP Kesatrian 1 Semarang telah menuangkannya dalam Rencana Kerja Jangka Menegah (RKJM) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT).

Visi, misi dan tujuan sekolah telah disusun secara jelas, dan proses penyusunannya sudah melibatkan seluruh warga sekolah dan perwakilan orang tua siswa, komite sekolah dan yayasan. Visi, misi dan tujuan sekolah dievaluasi secara periodik, untuk memastikan bahwa visi, misi dan tujuan sekolah masih relevan dengan tuntutan perkembangan jaman.

2.    Pelatihan Konsentrasi dan Fokus

Konsentrasi dan fokus adalah ketrampilan penting dalam prinsip panahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepala sekolah mengadakan pelatihan khusus untuk staf, guru dan siswa, tentang pentingnya konsentrasi mencapai tujuan akademis dan pengembangan diri. Teknik meditasi, mindfulness, atau latihan pernapasan, dapat diajarkan untuk membantu meningkatkan konsentrasi dan fokus.

3.    Peningkatan Ketepatan dalam Pengambilan Keputusan.

Agar sekolah dapat berkembang secara optimal, penting bagi kepala sekolah dan staf untuk mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data. Analisis data dan evaluasi terus menerus akan memebantu dalam pengambilan keputusan yang lebih akurat. Kepala sekolah dapat mengorganisir pelatihan tentang pengambilan keputusan yang efektif bagi staf sekolah, serta memfasilitasi diskusi kelompok untuk memastikan keputusan yang diambil secara kolektif.

Hal yang sudah diterapkan di SMP Kesatrian 1 Semarang adalah  dalam penyusunan Rencana  Kerja Tahunan (RKT), berdasarkan atas data Evaluasi Diri Sekolah (EDS). EDS diperoleh dengan mengeksplor secara detail capaian dari Rapor Pendidikan. Setelah mempelajari secara detail akar masalah dan rekomendasi solusi , maka disusunlah program-program yang akan dituangkan dalam RKT, sehingga harapannya program yang dilaksanakan akan tepat sasaran dan berdampak pada kemajuan sekolah. Dalam prosesnya, kegiatan ini melibatkan seluruh warga sekolah, perwakilan siswa dan orang tua siswa, komite sekolah dan yayasan, sehingga keputusan yang diambil tepat dan berdasarkan data yang akurat.

4.    Penanaman Budaya Ketenangan dan Ketepatan.

Budaya ketenangan dan ketepatan dapat dibangun melalui pendekatan yang bijaksana dalam menghadapi tantangan dan konflik. Kepala sekolah harus menjadi contoh yang baik dalam menunjukkan ketenangan dalam menghadapi situasi sulit. Program pembinaan karakter dan kegiatan pengembangan kepemimpinan dapat membantu dalam penanaman nilai-nilai ini diantara staf, guru dan siswa.

Program pembinaan karakter yang telah diterapkan di SMP Kesatrian 1 Semarang meliputi karakter anti korupsi yang tersusun dalam  program Sekolah Jujur Sekolah Saya (SJSS). Hasil yang diharapkan dari program ini adalah terbangunnya ekosistem sekolah antikorupsi, terbangunnya karakter siswa dimulai dari guru dan kepala sekolah sebagai role model, tumbuhnya inisiatif sekolah melaksanakan kegiatan yang menjadi laboratorium implementasi nilai-nilai antikorupsi, dan menghidupkan kurikulum antikorupsi yang telah ditetapkan sekolah. Semua program ini akan berhasil bila sudah tertanam budaya ketenangan dan ketepatan dalam menghadapai tantangan.

 

5.    Mendorong Kolaborasi dan Teamwork.

Kolaborasi dan teamwork adalah elemen kunci prinsip olahraga panahan yang dapat diterapkan dalam kontekas pendidikan. Kepala sekolah dapat menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dengan mendorong diskusi terbuka, pertukaran ide, dan kerja tim antar staf. Program pengembangan kerja tim dan kegiatan ekstrakurikuler yang menekankan kerjasama dapat membantu kolaborasi di sekolah.

Diskusi terbuka dan kolaborasi tim kerja yang sudah diterapkan di SMP Kesatrian 1 Semarang, diantaranya kegiatan komunitas belajara “Sinbar Spekasa” dan Refleksi Pembelajaran yang bertujuan sebagai wadah untuk berbagi praktik baik demi meningkatnya kualitas pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila juga merupakan aktualisasi tim kerja yang solid diantara sesama guru maupun siswa.

6.    Promosi Inovasi dan Adaptasi.

Untuk tetap relevan dan beradaptasi dengan perubahan, kepala sekolah harus mendorong inovasi di semua kegiatan. Ini dapat dilakukakan dengan memberikan dukungan kepada staf untuk mengembangkan ide-ide baru, mengadakan lokakarya atau kompetisi inovasi, dan memberikan ruang bagi eksperimen dan perubahan. Kepala sekolah juga harus memfasilitasi pembelajaran berkelanjutan dan pengembangan profesional staf dan guru untuk memperkuat ketrampilan adaptasi, utamanya dengan transformasi yang begitu cepat.

Kegiatan penulisan karya inovasi pembelajaran di SMP Kesatrian 1 Semarang merupakan langkah konkret yang ditempuh untuk meningkatkan inovasi guru dalam pembelajaran dan beradaptasi dengan perubahan yang berjalan begitu cepat, sehingga pelayanan pembelajaran selalu sesuai dengan tuntutan jaman.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, sekolah dapat mengadopsi prinsip-prinsip panahan dalam kepemimpinannya dan mengarahkan upaya menuju kesuksesan yang lebih besar. Praktik terbaik ini, jika diimplementasikan dengan konsisten dan komprehensif, akan membantu sekolah untuk berkembang, meningkatkan prestasi siswa, dan memperkuat hubungan dengan masyarakat.

 

C.  HASIL YANG DIHARAPKAN DARI POLA KEPEMIMPINAN INI

Berdasarkan data hasil penerimaan siswa baru, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir SMP Kesatrian 1 Semarang mengalami penurunan perolehan jumlah siswa. Prestasi akademik dan non akademik juga belum ada peningkatan yang signifikan. Hasil Rapor Pendidikan tahun 2023 juga belum semua indikator capaiannya baik.

Kepala sekolah mencoba menerapkan pola kepemimpinan yang terinspirasi dari prinsip-prinsip dalam cabang olahraga panahan, yaitu pola kepemimpinan yang berfokus pada ketepatan, disiplin, dan konsistensi, yang diharapakan akan memberikan hasil  seperti yang diuraikan di bawah ini.

 

1.    Peningkatan Reputasi dan Citra Sekolah.

Salah satu hasil utama yang diharapkan dari pola kepemimpinan yang terinsiprasi oleh olahraga panahan adalah peningkatan reputasi sekolah. Prinsip dalam panahan, seperti fokus dan ketepatan, mencerminkan kepemimpinan yang tegas dan berbasis data. Dengan kepala sekolah yang memiliki visi jelas dan strategi terukur, sekolah dapat meningkatnya citra positifnya di mata masyarakat. Hal ini akan mendorong lebih banyak orang tua untuk mempertimbangkan sekolah sebagai pilihan terbaik untuk pendidikan anak mereka, sehingga berdampak pada peningkatan jumlah siswa yang mendaftar dalam PPDB.

2.    Proses PPDB yang Efisien dan Transparan

Pola kepemimpinan yang terinsiprasi oleh prinsip dalam olahraga panahan mengutamakan efisiensi dan transparansi. Ketika proses PPDB dikelola dengan ketepatan dan keteraturan, orang tua calon siswa akan merasa lebih nyaman dan percaya dengan sistem sekolah. Hasil yang diharapkan dari pola ini adalah pengalaman PPDB yang lancar dan efisien, dengan alur yang jelas dan informasi yang mudah diakses. Hal ini akan meningkatkan minat orang tua untuk mendaftarkan anak mereka, karena mereka merasa prosesnya adil dan mudah dipahami.

3.    Fokus pada Pengembangan Kualitas Pembelajaran.

Prinsip disiplin dalam olahraga panahan mengajarkan pentingnya konsistensi dalam latihan dan peningkatan ketrampilan. Kepala sekolah yang menerapkan pola kepemimpinan ini akan berfokus pada pengembangan kualitas pengajaran dan kurikulum yang unggul. Hasil yang diharapkan adalah sekolah yang memiliki standar pendidikan yang tinggi, yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak calon siswa.. Ketika orang tua mengetahui bahwa sekolah memiliki kualitas pengajaran yang baik, mereka cenderung memilih sekolah tersebut untuk pendidikan anak mereka.

4.    Penggunaan teknologi dan Media Sosial.

Olahraga panahan mengajarkan pentingnya beradaptasi dengan perubahan dan menggunakan alat yang tepat untuk mencapai tujuan. Dalam konteks PPDB, pola kepemimpinan ini mendorong penggunaan teknologi dan media sosial untuk mempromosikan sekolah. Hasil yang diharapkan adalah kampanye promosi yang efektif, yang menarik perhatian calon siswa dan orang tua. Dengan penggunaan media sosial dan teknologi informasi secara tepat, sekolah dapat menjangkau audiens yang lebih luas, meningkatkan kesadaran tentang keunggulan sekolah, dan pada akhirnya meningkatkan penerimaan jumlah siswa dalam PPDB.

5.    Membangun Hubungan dan Jaringan yang Kuat.

Dalam panahan, kesuksesan seringkali bergantung pada dukungan dan kerja tim. Pola kepemimpinan yang terinspirasi dari prinsip ini, akan mendorong pembangunan hubungan yang kuat dengan komunitas dan jaringan yang luas. Kepala sekolah yang memiliki ketrampilan dalam berkomunikasi dan berjejaring dapat menarik lebih banyak dukungan dari alumni, orang tua, dan komunitas sekitar. Hasil yang diharapkan adalah sekolah yang memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak, sehingga lebih banyak orang yang merekomendasikan sekolah tersebut kepada calon siswa dan orang tua lainnya.

6.    Program dan Kegiatan yang Menarik.

Kepemimpinan yang didasarkan pada prinsip dalam olahraga panahan juga mendorong kreativitas dan inovasi. Dengan pola kepemimpinan ini, kepala sekolah dapat merancang program dan kegiatan yang menarik bagi siswa, seperti klub olahraga, seni, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Hasil yang diharapkan adalah sekolah yang memiliki berbagai kegiatan yang menarik, yang dapat menarik minat calon siswa. Ketika sekolah memiliki banyak pilihan kegiatan, orang tua dan siswa akan lebih tertarik untuk bergabung, sehingga meningkatkan perolehan jumlah siswa dalam PPDB.

Dengan menerapkan pola kepemimpinan yang terinspirasi oleh prinsip dalam olahraga panahan, sekolah dapat meningkatkan jumlah siswa dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Dari peningkatan reputasi sekolah hingga penggunaan teknologi dan media social, pola kepemimpinan ini menawarkan berbagai cara untuk menarik minat calon siswa dan orang tua. Dengan fokus pada kualitas pengajaran, transparansi, dan program yang menarik, sekolah dapat mencapai peningkatan yang signifikan dalam jumlah siswa yang mendaftar. 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN.

Dari uraian dalam pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa  untuk meningkatkan kualitas sekolah, salah satunya adalah perlunya pemimpin atau kepala sekolah yang cakap dalam memimpin sekolahnya. Salah satu alternatif yang bisa diterapkan adalah pola kepemimpinan yang mengadopsi prinsip-prinsip dalam cabang olahraga panahan.

Seorang kepala sekolah akan mengembangkan visi yang jelas dan strategi jangka panjang dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapainya, konsentrasi dan fokus pada tujuan yang akan dicapai, memiliki ketenangan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan yang selalu berbasis data, mendorong kolaborasi dan kerja tim, serta tak berhenti dari berinovasi dan beradaptasi.

Dengan menerapkan pola kepemimpinan ini, diharapakan kepala sekolah akan bisa meningkatkan reputasi dan citra sekolah, menyelenggarakan proses penerimaan peserta didik baru yang efesien dan transparan, fokus meningkatkan kualitas layanan pembelajaran, terampil menggunakan teknologi dan media social secara tepat, membangun hubungan dan jaringan yang kuat, serta menyelenggarakan program dan kegiatan yang menarik, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan menjadikan sekolah tersebut sebagai pilihan utama untuk anak-anaknya.

B.     SARAN

Dalam implikasinya menerapkan prinsip olahraga panahan dalam kepemimpinan tidaklah mudah, untuk itu diperlukan tekad yang kuat dan semangat yang tinggi, agar bisa mengatasi semua tantangan dan hambatan. Hasil yang diperoleh dalam sebuah kepemimpinan juga tidak bisa terlihat dalam waktu yang singkat, oleh karenanya perlu konsistensi dalam pelaksanaannya. 

DAFTAR  PUSTAKA

Antoni Putra dkk. 2023. “Panduan Operasional Model Kompetensi Kepala Sekolah”. Jakarta: Dirjen GTK Kemdikbudristek.

Heru Prasetyo,dkk. 2023. “Latihan Mental Bagi Atlet Panahan”.Yogyakarta. Fakultas Keolahragaan dan Kesehatan UNY.

Lela Foni Sulistyowati, M.Si dan Herlina,Dr,S.E,M.Pd. 2020. “ Manajerial Kepala Sekolah”.Jakarta : Direktorat Pendidikan Profesi dan pembinaan Guru dan tenaga Kependidikan Kemdikbud RI.

Ramdan Pelana,Dr,S.Or,M.Or dan Nadya Dwi Oktafiranda,S.Or,M.Pd. 2017. “Teknik Dasar Olahraga Panahan”. Depok: Rajawali Pers.

Sasmarianto,Dr.S.Pd,M.Pd dan Muslimin,S.Pd. 2023. “Mengenal Olahraga Panahan”. 2023. Bandung: Widina Bhakti Persada.

^ Husnul, Abdi (2021-04-05). "8 Manfaat Olahraga Panahan untuk Kesehatan, Anjuran Nabi Muhammad SAW"liputan6.com. Diakses tanggal 2022-02-12.

Purwoko, Satria Aji (2021-07-12). "Olahraga Panahan: Sejarah, Peralatan, dan Teknik Dasar • Hello Sehat"Hello Sehat. Diakses tanggal 2022-02-10.

^ Prasetyo, Yudik; Nasrulloh, Ahmad; Komarudin (2018). "Identifikasi Bakat Istimewa Panahan di Kabupaten Sleman"Jurnal Olahraga Prestasi. 14 (2): 200. doi:10.21831/jorpres.v14i2.23830.

^ Hasmar, Wanti; Sugiyanto; Riyadi, SlametPanduan Model Mental Skill Training dalam Olahraga Panahan. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia. hlm. 4. ISBN 978-623-227-078-7.

^ Lombard M (2020). "The tip cross-sectional areas of poisoned bone arrowheads from southern Africa". Journal of Archaeological Science: Reports. 33: 102477Bibcode:2020JArSR..33j2477Ldoi:10.1016/j.jasrep.2020.102477.

^ Vanagosi, Kadek Dian (2015). "Analisis Kinesiologi Teknik Cabang Olahraga Panahan"Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 70. ISSN 2580-1430. 

 

 

 

 

 

Comments

Kunjungan

Flag Counter