MEMBENTUK KESADARAN SOSIAL DAN KEBANGSAAN

 

“Peran Guru IPS dalam Membentuk Kesadaran Sosial dan Kebangsaan Siswa di SMP Kesatrian 1 Semarang”



Oleh :

Janys Wahyu Pramudya, S.Pd.


Pendidikan merupakan pilar penting dalam pembangunan bangsa, karena melalui pendidikan, karakter, pengetahuan, dan keterampilan individu dikembangkan. Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), yang memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran sosial dan kebangsaan siswa. Guru IPS diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai sosial dan kebangsaan kepada siswa sehingga mereka tumbuh menjadi warga negara yang berwawasan luas, kritis, dan memiliki rasa cinta tanah air yang kuat.

Di SMP Kesatrian 1 Semarang, peran guru IPS sangat vital dalam mencapai tujuan tersebut. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai sosial dan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai metode pengajaran, guru IPS diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya peran sosial dan nasionalisme dalam diri siswa.

Penguatan pembelajaran karakter tidak terlepas dari peran guru. Guru adalah subjek yang turut menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran. Hasil akhir dari proses transfer ilmu pengetahuan adalah bermuara pada pembentukan karakter siswa yang baik, bermoral dan berbudi luhur. Sehingga guru dituntut untuk memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial, dan intelektual dalam pribadinya, serta memiliki kelebihan dalam pemahaman ilmu pengetahuan. Guru juga harus mampu mengambil keputusan secara mandiri (independent), terutama dalam berbagai hal yang berkaitan, dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan kondisi Siswa, dan lingkungan.

Guru harus mampu bertindak dan mengambil keputusan secara, tepat waktu, dan tepat sasaran terutama berkaitan dengan masalah pembelajaran dan Siswa, tidak menunggu perintahan atasan atau kepala sekolah.5 Pembelajaran saat ini adalah tantangan bagi guru IPS dalam mendidik karakter mereka meskipun hanya melalui media sosial dan media pembelajaran online. Guru IPS mempunyai tugas penting yang bagus untuk pengembangan intelektual, emosional, kultural dan sosial Siswa. Proses pembelajaran IPS yang tepat, harus memberikan kesempatan bagi siswa untuk dapat menguasai dan memiliki konsep, meningkatkan keterampilan serta kemampuan berfikir berdasarkan situasi atau kondisi, sehingga siswa dapat membuat keputusan dalam pemecahan masalah secara rasional dan kritis.

Berkaitan dengan peran guru sebagai pendidik, guru IPS juga memiliki tanggung jawab terhadap hasil belajar siswa, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pengalaman-pengalaman siswa, disiplin dalam mentaati peraturan yang berlaku disekolah, serta membimbing siswa untuk memenuhi karakter yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam sekolah ataupu kehidupan sosial masyarakat. Ada permasalahan yang harus dihadapi oleh Guru IPS dalam menanamkan karakter sosial kepada Siswanya, seperti kegiatan interaksi antara Siswa dengan lingkungannya. Banyak digresi yang terjadi seperti, kesalahan dalam membuat keputusan, mengejek orang lain, kurang peduli dengan lingkungan, malas belajar dan beribadah, dan yang paling sering adalah terlambat ke sekolah.

Dari konflik-konflik itulah, peran guru IPS sebagai pendidik sangat dibutuhkan. Dengan adanya konflik-konflik tersebut, Guru IPS membentuk karakter siswa dengan memberi teladan yang baik. Guru sebagai teladan tentunya apa yang dilakukan akan menjadi contoh serta panutan terhadap siswa/i. Dengan begitu, ada yang harus diperhatikan dan dilakakukan oleh guru adalah sikap dasar, bicara, gaya bicara, sikap guru menghadapi keberhasilan dan kesalahan, hubungan dengan kehidupan masyarakatnya, proses berpikir, semangat, dan pengambilan keputusan secara adil. Hal ini dibuktikan dengan adanya pra penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu SMP Kesatrian 1 merupakan SMP Nasional Swasta yang letaknya didaerah Jalan Alteri Soekarno Hatta, Kelurahan Palebon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Karena wilayah sekoalahn ini berada di perkotaan yang bisa dibilang padat penduduk maka muncul berbagai permasalahan yang dialami siswa dalam kesehariannya, termasuk telat berangkat sekolah dan membolos sekolah. Keberhasilan dalam menciptakan karakter mensyaratkan adanya sejumlah usaha untuk mencapainya, setidaknya ada bimbingan yang terus-menerus yang dimotori oleh pihak sekolah, bukan hanya guru mata pelajaran, melainkan semua komponen masyarakat yang ada di lingkungan sekolah tersebut. Masalah karakter pembentukan dan penanaman karakter dalam dunia pendidikan nampaknya bukan sesuatu yang baru dan asing untuk kita dengar.

 

Peran Guru IPS dalam Membentuk Kesadaran Sosial

Guru IPS memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kesadaran sosial pada siswa. Kesadaran sosial adalah pemahaman akan pentingnya hubungan antarmanusia dalam masyarakat serta tanggung jawab sosial individu terhadap komunitasnya. Guru IPS di SMP Kesatrian 1 Semarang menggunakan berbagai strategi untuk membentuk kesadaran sosial siswa, antara lain:

  1. Pembelajaran Kontekstual: Guru mengaitkan materi pelajaran dengan kejadian nyata yang terjadi di lingkungan sekitar siswa. Misalnya, dalam pembelajaran tentang masalah sosial seperti kemiskinan dan ketidakadilan, guru mengajak siswa untuk berdiskusi mengenai kondisi sosial di kota Semarang dan mencari solusi praktis yang bisa dilakukan. Pemahaman kontekstual tentang pembelajaran IPS adalah proses intelektual dimana peserta didik memperoleh pembelajaran dengan menerapkan contoh nyata kehidupan sehari-hari dan dipahami dengan apa yang sudah dipelajari. Sehingga dapat dikatakan pandangan kontekstual memfokuskan peserta didik untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, supaya materi yang dijadikan acuan pembelajaran dapat dipahami secara keseluruhan. Dengan kerangka berfikir di atas, model kontekstual diyakini untuk di integrasikan dalam pembelajaran IPS. Tujuannya, dari hasil pembelajaran peserta didik dapat mengaplikasikan langsung dengan kehidupan nyata di lingkungannya dalam bentuk sikap, tingkah laku, pola piker dan lain sebagainya. Dilain sisi pembelajaran IPS berorenasi dengan kehidupan masyarakat. sehingga peserta didik selain memperoleh nilai pembelajaran juga dapat merefleksikannya untuk bisa dijadikan acuan bagaiman.
  1. Pengajaran Sejarah Nasional: Guru IPS mengajarkan sejarah nasional dengan cara yang menarik dan menyentuh hati siswa. Kisah perjuangan pahlawan, peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila diajarkan dengan metode yang menginspirasi sehingga siswa merasakan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
  1. Kegiatan Ekstrakurikuler: Guru IPS mendorong siswa untuk aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan kebangsaan, seperti Pramuka, Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan kelompok studi sejarah. Kegiatan ini memperkuat rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan dalam diri siswa.
  1. Studi Lapangan dan Kunjungan Sejarah: Guru IPS mengorganisir kunjungan ke tempat-tempat bersejarah seperti museum, situs bersejarah, dan monumen perjuangan. Melalui kunjungan ini, siswa memperoleh pengalaman langsung tentang sejarah bangsa dan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalamnya.

2.      Proyek Sosial: Guru mendorong siswa untuk terlibat dalam proyek sosial yang melibatkan kerja sama dengan masyarakat. Proyek ini dapat berupa kegiatan bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan, atau kampanye kebersihan lingkungan. Melalui kegiatan ini, siswa belajar tentang pentingnya empati dan kontribusi positif terhadap masyarakat. Pentingnya Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam Konteks Pendidikan antara lain IPS memberikan pemahaman yang mendalam tentang struktur, dinamika, dan nilai-nilai masyarakat. Ini membantu peserta didik mengembangkan wawasan sosial dan keterlibatan dalam konteks masyarakat tempat mereka tinggal. Mata pelajaran IPS melibatkan analisis terhadap peristiwa sejarah, geografi, ekonomi, dan politik. Hal ini mengasah keterampilan analisis kritis peserta didik yang memungkinkan mereka menjadi pemikir yang kritis dan reflektif. Mata pelajaran IPS membantu peserta didik memahami keterkaitan antara berbagai isu global. Hal ini penting dalam mempersiapkan generasi muda untuk berperan dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, kemiskinan, dan konflik internasional. IPS membantu membentuk warga negara yang aktif dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi. Peserta didik diajak untuk memahami hak dan kewajiban mereka dalam masyarakat.

Strategi pembelajaran IPS harus mengajak peserta didik untuk terlibat dalam proyek-proyek pembelajaran yang berorientasi pada proses, hasil dan produk. Proyek-proyek pembelajaran ini harus memiliki tujuan yang jelas, relevan, dan bermakna bagi peserta didik. Proyek-proyek pembelajaran ini juga harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi, menyelidiki, dan menyelesaikan masalah sosial yang ada di lingkungan mereka, baik lokal, nasional, maupun global. Proyek-proyek pembelajaran ini juga harus mengembangkan keterampilan abad 21 peserta didik, seperti literasi informasi, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

3.      Diskusi dan Debat: Guru sering mengadakan diskusi dan debat tentang isu-isu sosial yang relevan. Diskusi ini bertujuan untuk melatih siswa berpikir kritis, mengemukakan pendapat, serta menghargai pandangan orang lain. Dengan demikian, siswa menjadi lebih peka terhadap permasalahan sosial dan mampu mencari solusi yang konstruktif.

Materi diskusi dalam pembelajaran IPS harus mengintegrasikan materi IPS dengan konteks lokal, nasional, dan global. Konteks lokal dapat berupa kebudayaan, sejarah, geografi, ekonomi, politik, dan sosial yang ada di lingkungan peserta didik. Konteks nasional dapat berupa isu-isu yang berkaitan dengan identitas, kewarganegaraan, dan kebangsaan Indonesia. Konteks global dapat berupa isu-isu yang berkaitan dengan keterkaitan dan ketergantungan antara negara-negara di dunia. Konteks-konteks ini harus dapat memperkaya pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi peserta didik terhadap kebinekaan global, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan partisipasi peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat.

Peran Guru IPS dalam Membentuk Kesadaran Kebangsaan

Kesadaran kebangsaan adalah kesadaran akan identitas nasional serta rasa cinta dan tanggung jawab terhadap negara. Guru IPS di SMP Kesatrian 1 Semarang berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran kebangsaan siswa melalui beberapa pendekatan:

2.      Upacara Bendera dan Peringatan Hari Besar Nasional: Guru IPS juga berperan dalam pelaksanaan upacara bendera dan peringatan hari besar nasional. Melalui kegiatan ini, siswa diajarkan untuk menghormati simbol-simbol negara dan menghargai perjuangan para pendahulu dalam merebut kemerdekaan.

 Pendidikan Karakter

1) Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah pendidikan akhlak yang menyentuh ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan karakter menjamah unsur mendalam dari pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Pendidikan karakter menyatukan tiga unsur tersebut adalah akidah, ibadah, dan muamalah. Bahasa Tauhid sering disebut dengan Iman, Islam, dan Ihsan. Ketiga unsur itu harus menyatu dan terpadu dalam jiwa peserta didik, sehingga akhlak yang tergabung berlandaskan keimanan, keislaman, dan keikhlasan. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggarakan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuanya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari.

2) Tujuan Pendidikan Karakter Berdasarkan pada Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Pendidikan karakter bertujuan untuk:

     1) Membentuk siswa berpikir rasional, dewasa, dan bertanggung jawab.
      2) Mengembangkan sikap mental yang terpuji.
      3) Membina kepekaan sosial anak didik.
      4) Membangun mental optimis dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan
           tantangan.
      5) Membentuk kecerdasan emosional.
      6) Membentuk anak didik yang berwatak pengasih, penyayang, sabar, beriman,
          taqwa, bertanggung jawab, amanah, jujur, adil, dan mandiri.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang berpikir rasional, dewasa, dan bertanggung jawab, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, optimis, dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Selain itu, (Barnawi, 2013) mempaikan pendapatnya menyenai tujuan pendidikan karakter yaitu:

“Tujuan pendidikan Karakter disekolah tidak lain adalah adanya perubahan kualitas tiga aspek pendidikan, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik, Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilaioleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran” (Barnawi, 2013).

Sehingga Pendidikan karakter bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di Sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan.

Nilai-Nilai Karakter Sosial

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional nilai-nilai karakter sosial ada 18 aspek :


1. Religius.

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang

dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun

dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur.

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang

selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi.

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,

pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin.

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai

ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras. perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam

mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan

tugas dengan sebaik-baiknya.

6. Kreatif.

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari

sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri.

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam

menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis.

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban

dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu.

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam

dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan di dengar.

10. Semangat Kebangsaan.

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan

bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air.

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan

bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi.

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu

yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati

keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif.

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu

yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati

keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai.

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu

yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati

keberhasilan orang lain.

15. Gemar Membaca.

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang

memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan.

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada

lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk

memperbaiki.Hal inis angat penting mengingat bahwa siswa seringkali

berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

17. Peduli Sosial.

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan

masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab.

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya,

yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan

(alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Delapan belas nilai-nilai karakter diatas dapat menjadi fokus bagi guru untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada setiap mata pelajaran yang ada di sekolah. Setiap nilai-nilai karakter yang akan ditanamkan kepada siswa, ada indikasiindikasi yang harus diperhatikan, seperti contoh sikap peduli social, indiaksinya siswa dengan kesadaran sendiri membantuk temannya ketika mengalami permasalahan.

 Pembelajaran Tingkat SMP

Strategi pembelajaran IPS tingkat SMP dalam Kurikulum Merdeka Belajar adalah sebagai berikut:

a.    Membuat video dokumenter tentang kebudayaan lokal. Peserta didik diminta untuk memilih salah satu kebudayaan lokal yang ada di daerah mereka, seperti tari, musik, seni, adat, bahasa, atau lainnya. peserta didik harus melakukan riset tentang latar belakang, ciri khas, makna, dan tantangan yang dihadapi oleh kebudayaan tersebut. Peserta didik juga dapat melakukan wawancara dengan narasumber yang terkait dengan kebudayaan tersebut, seperti seniman, budayawan, tokoh masyarakat, atau lainnya. peserta didik harus merekam dan mengedit video dokumenter yang menampilkan kebudayaan tersebut dengan cara yang menarik dan informatif. Peserta didik dapat bekerja secara individu atau kelompok, dan menggunakan peralatan yang tersedia, seperti kamera, laptop, atau aplikasi video editor.

 

b.    Peserta didik dapat mengenal dan menghargai kebudayaan lokal yang ada di daerah mereka, yang merupakan bagian dari kebinekaan global. Peserta didik juga dapat belajar tentang sejarah, nilai, dan peran kebudayaan tersebut dalam kehidupan masyarakat. Mereka juga dapat menyadari dan mengatasi masalah-masalah yang mengancam kelestarian kebudayaan tersebut, seperti modernisasi, globalisasi, atau asimilasi. Peserta didik juga dapat berbagi dan mempromosikan kebudayaan tersebut kepada orang lain, baik di dalam maupun di luar sekolah.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya adalah :

1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk penelitian lanjutan yang relevan dan dapat menambah keilmuan pendidikan khususnya bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Serta penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan penelitian-penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis.

a. Bagi Sekolah Hasil penelitian ini bisa dijadikan alternatif rujukan untuk mengembangkan kualitas pembelajaran IPS dan bisa di integrasikan karakter dengan kehidupan sosial masyarakat.

b. Bagi Lembaga Pendidikan Dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan lembaga agar lebih baik dalam meningkatkan kualitas lulusan serta dapat menjadi bahan masukan untuk SMP Kesatrian 1 Semarang.

c. Bagi Pemerintah Hasil penelitian ini sebagai bukti dan referensi yang dapat digunakan oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah dalam mengembangkan kualitas pendidikan karakter di Indonesia.

d. Bagi Penulis Penelitian ini diharapkan agar dapat memperoleh wawasan yang luas dan penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan studi selanjutnya yang relevan serta mampu memberikan informasi terkait pendidikan IPS yang berkarakter.

Peran guru IPS di SMP Kesatrian 1 Semarang sangat penting dalam membentuk kesadaran sosial dan kebangsaan siswa. Guru IPS tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai sosial dan kebangsaan yang akan membentuk karakter siswa sebagai warga negara yang baik.

Melalui pembelajaran kontekstual, proyek sosial, diskusi, pengajaran sejarah nasional, upacara bendera, kegiatan ekstrakurikuler, serta studi lapangan, guru IPS berhasil menumbuhkan kesadaran sosial dan kebangsaan pada siswa. Siswa menjadi lebih peka terhadap masalah sosial, memiliki empati, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Selain itu, mereka juga memiliki rasa cinta tanah air yang kuat, menghargai perjuangan para pahlawan, serta berkomitmen untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

Dengan demikian, peran guru IPS sangat strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan kebangsaan yang tinggi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa Indonesia memiliki generasi penerus yang siap menghadapi tantangan global tanpa melupakan identitas dan nilai-nilai luhur bangsa.dan negara Indonesia

Peran Guru IPS dalam membentuk karakter sosial siswa di SMP Kesatrian 1 Semarang melalui pembelajaran IPS adalah : 

1)   Sebagai penasehat, yaitu dengan guru memberikan nasehat untuk selalu sopan santun terhadap siapapun. 

2)   Sebagai peneliti atau evaluator, yaitu dengan guru memberikan penilaian melalui tes atau non tes. 

3)   Sebagai tauladan yang baik, yaitu dengan guru menerapkan sikap jujur, tepat waktu, dan selalu menjawab salam saat guru memulai pelajaran. 

4) Sebagai mediator, yaitu dengan guru memberikan solusi atau penengan dalam memecahkan masalah-masalah saat diskusi kelompok.

 

Dari peran guru tersebut, terbentuklah 3 karakter sosial yang diambil sesuai dengan visi dan misi di SMP Kesatrian 1 Semarang, yaitu : 

1)       Religius, Siswa dibiasakan untuk mengawali dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan doa dan melakukan sholat sunnah berjamaah dan sholat dzuhur berjamaah.

2)       Jujur, Siswa dibiasakan agar mengerjakan tugas, dan tidak mencontek saat ujian. Siswa juga diajarkan untuk selalu terbuka dengan guru dan menghargai apa yang sudah diperoleh.

3)    Kerja keras, Siswa juga dibiasakan untuk tekun, disiplin, dan pantang menyerah dalam belajar untuk meraih apa yang mereka inginkan di kemudian hari.

Comments

Kunjungan

Flag Counter