MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE STAR

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPAMELALUI METODE STAR PADA SISWA KELAS IX SMP KESATRIAN 1 SEMARANG

LATIFAH SYAYIDAH, S.Pd.

NIPY. 101.0567.55

SMP KESATRIAN 1 SEMARANG



PENDAHULUAN
 
Berawal dari analisis rapor pendidikan SMP Kesatrian 1 Semarang tahun 2023 pada kualitas pembelajaran yang mengalami penurunan sebesar 4,88% dan mendapatkan kategori sedang. Hal ini menjadi pemikiran untuk melakukan inovasi pembelajaran pada mata pelajaran IPA, khususnya pada bab bioteknologi. 
Bioteknologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol,antibiotik, asam organik) dalam proses produksi untuk menciptakan barang dan jasa yang dapat digunakan oleh manusia. Bioteknologi dapat dibagi berdasarkan kompleksitasnya menjadi dua jenis, yaitu bioteknologi tradisional atau konvensional dan bioteknologi modern. 
Bioteknologi konvensional atau tradisional adalah bioteknologi yang menggunakan bakteri, proses biokimia, serta proses genetik alami berupa mutasi atau rekombinasi gen. Prinsip bioteknologi ini telah dikenal umat manusia selama ribuan tahun. Bioteknologi konvensional menggunakan prinsip atau metode pembuatan produk tradisional. Misalnya membuat tape dengan cara menaburkan ragi pada singkong dan diamkan selama 3 hari.Proses ini membutuhkan bantuan mikroorganisme seperti jamur Saccharomyces cerevisiae, jamur Aspergillus sp dan bakteri Acetobacter aceti. Akibatnya, mikroorganisme tersebut mengubah rasa singkong menjadi manis dan beraroma khas. Penerapan bioteknologi konvensional telah merambah beberapa bidang kehidupan manusia seperti pangan, pertanian, peternakan, serta kesehatan dan obat-obatan.
    
Bioteknologi modern mulai mengalami perkembangan yang signifikan setelah ditemukannya struktur DNA pada tahun 1950. Bioteknologi modern paling dikenal sebagai salah satu jenis bioteknologi yang berbasis rekayasa, rekayasa DNA atau manipulasi genetik dengan menggunakan biokimia dan mikrobiologi. Misalnya, microarray DNA yang diwakili oleh titik-titik berwarna ditafsirkan sebagai tingkat ekspresi relatif dari 2.400 gen manusia. Analisis mikro aril sering digunakan untuk membandingkan ekspresi gen pada beberapa sampel yang 2 berbeda, seperti sampel jaringan normal dan sampel kanker. Pengetahuan ini kemudian dikembangkan dan digunakan sebagai teknik untuk melakukan penelitian tentang penyakit kanker dan penyakit lainnya. Seiring dengan perkembangannya, bioteknologi modern diterapkan di berbagai bidang kehidupan.
Metode STAR merupakan singkatan dari Situation, Task, Action and Reshult. STAR ini merupakan cara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang perilaku sesorang, pengalaman, dan keberhasilan seseorang (DDI, 2020). Dalam penelitian ini STAR akan digunakan oleh penulis sebagai rumusan dalam melakukan praktik baik. Situation menggambarkan konsep “pada saat apa” anak didik melakukan praktik baik, lalu pada konsep Task “mengapa” anak didik melakukan praktik baik, kemudian dalam konsep Action itu memberikan pengertian tentang apa yang dilakukan anak didik saat praktik baik. Sedangkan Result itu merupakan hasil dari anak didik setelah melakukan praktik baik.  
Pada kesempatan kali ini, saya akan mengaplikasikan bioteknologi konvensional atau tradisional dengan melakukan best practice pembuatan tempe dan tape dimana memanfaatkan bakteri Rhizhopus Oryzae untuk tempe dan bakteri Saccharomyces Cerevisiae untuk pembuatan tape. Praktik baik ini dilakukan agar pembelajaran lebih menarik dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa melalui metode STAR.


PEMBAHASAN

Situation. Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab dalam praktik ini? Rendahnya motivasi belajar peserta didik dialami oleh peserta didik kelas 9D di satuan pendidikan SMP Kesatrian 1 Semarang, khususnya pada materi Bioteknologi dengan menerapkan konsep bioteknologi dan perannya dalam kehidupan manusia serta membuat salah satu produk bioteknologi konvensional yang ada dilingkungan sekitar. Berdasarkan hasil pengamatan, kesulitan yang dialami peserta didik kelas 9D SMP Kesatrian 1 Semarang ini terjadi disebabkan beberapa hal berikut: 
1. Pembelajaran masih berpusat pada guru. 
2. Pembelajaran kurang inovatif sehingga pembelajaran yang diterapkan monoton. 
3. Media pembelajaran dalam pembelajaran IPA belum inovatif dan interaktif .
Selain hasil pengamatan berdasarkan nilai hasil pretest peserta didik tahun 2023- 2024 rendahnya motivasi peserta didik juga diketahui dari 24 peserta didik, hanya 8 peserta didik yang tuntas mendapatkan nilai di atas KKTP, sedangkan 16 peserta didik lainnya tidak, dengan rata-rata kelas 61. Hasil ini tentu masih di bawah kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, yaitu 80. (data terlampir). Peran saya sebagai guru, didasarkan pada permasalahan di atas, dan mengharuskan saya menerapkan Best Practice untuk mengatasi permasalahan pembelajaran melalui model pembelajaran yang inovatif dan penggunaan media. Oleh karena itu, dari hasil kajian literatur, penulis yang berperan sebagai guru menggunakan model pembelajaran pendekatan saintifik problem based learning untuk merancang pembelajaran inovatif yang meningkatkan motivasi belajar siswa pada bahan ajar bioteknologi dengan pembuatan “tempe dan tape”. Best practice ini tidak hanya berguna dalam situasi belajar, namun juga dapat dijadikan acuan oleh guru-guru lain untuk meningkatkan pembelajarannya pada kompetensi yang sama.


Task.Kondisi yang menjadi latar belakang masalah atau permasalahan yang menghambat terwujudnya pembelajaran muncullah sebuah tantangan. Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat. 4 Berdasarkan observasi studi literatur terdapat beberapa tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning dengan pendekatan saintifik. Tantangan pembelajaran model pembelajaran berbasis masalah dengan tindakan ini adalah: 
1. Diperlukan persiapan yang lebih matang untuk menyiapkan materi, soal, konsep, alat, dan media yang inovatif untuk memotivasi beragam siswa dalam belajar. 
2. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran dengan mencari pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kebutuhannya. 
3. Penerapan perangkat pembelajaran inovatif pada implementasi rencana aksi membutuhkan waktu yang cukup lama. 
Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru melakukan tindakan berikut:  
1. Guru melakukan beberapa persiapan antara lain mencetak perangkat berbasis PJBL dan LKPD menggunakan fasilitas printer sekolah. Proyektor yang mendukung media pembelajaran seperti video yang telah disiapkan. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mempersiapkan diri baik di grup WA maupun sesaat sebelum melakukan tindakan. Siswa juga menyiapkan alat dan bahan khususnya mikroorganisme Rhizopus Oryzae untuk tempe, dan mikroorganisme Sacchoromyces cerevisiae untuk tape, bahan dasar seperti ketela pohong, kedelai, dan beras ketan, baskom, daun pisang, pengaduk, tampah, lidi, gula pasir. 
2. Guru melaksanakan tes diagnostik kognitif untuk mengetahui pengetahuan belajar awal siswa. Uji diagnostik ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan aksi. 
3. Kegiatan pembelajaran berdasarkan model PJBL “Membuat Tempe dan Tape” dilaksanakan secara berkelompok untuk menghemat waktu dan memberikan kesempatan kepada seluruh siswa dalam melaksanakan proyek dengan pendekatan saintifik. 
Peserta: Guru IPA dan siswa kelas IX D


Action. Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini? Langkah–langkah yang dilakukan dalam aksi praktik baik ini menggunakan Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dengan pembuatan tempe dan tape melalui pendekatan saintifik pada bahan ajar Bioteknologi Kelas IX. Strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan antara lain:
1. Berkaitan dengan pembelajaran 
Untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada pembelajaran IPA bahan ajar Bioteknologi maka pada aktivitas pembelajaran siswa diberikan pengalaman belajar yang kontekstual berbasis proyek, berkaitan dengan kehidupan sehari- hari, yang disajikan dalam LKPD dimana LKPD disusun sesuai sintak model PJBL sehingga mendorong siswa berperan aktif melalui keterampilan saintifik. 
2. Berkaitan dengan media ajar 
Media edukasi slide presentasi dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran IPA dengan memberikan kebebasan siswa mencari dan menemukan konsep. Selain itu, penggunaan slide presentasi dan media animasi memungkinkan siswa menyerap informasi lebih cepat, bereaksi lebih cepat, dan menghubungkan teori dan aplikasi. 
3. Berkaitan dengan model 
Pembelajaran Kelebihan pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang digunakan dapat meningkatkan motivasi belajar karena siswa bekerja keras menyelesaikan proyek dan terlibat dalam pembelajaran. 
4. Berkaitan dengan penilaian 
Dapat juga dilakukan dengan menyajikan soal-soal asesmen kognitif berupa soal pre-test dan post-test untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Pertanyaanpertanyaan ini juga digunakan untuk memastikan pencapaian tujuan pembelajaran dan menentukan area yang perlu ditingkatkan sebelum dan sesudah pelaksanaan aksi. Dalam pembuatan soal, soal juga dilengkapi dengan kisi-kisi dan rubrik soal, sehingga soal yang dirancang benar-benar selaras dengan tujuan pembelajaran. Selain penilaian kognitif, guru juga melakukan penilaian sikap dan penilaian kinerja/keterampilan.


Result. Bagaimana dampak dari aksi dari langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif? Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut.
Berdasarkan hasil refleksi belajar siswa yang diisi pada Google Form dapat disimpulkan bahwa 100% siswa merasa puas dengan pendekatan saintifik model project based learning dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu, aksi ini juga akan memberikan dampak positif terhadap keterampilan saintifik dan kepercayaan diri siswa ketika menyampaikan ide dan pendapat kreatif di depan siswa lain. 
Salah satu faktor keberhasilan aksi ini adalah dengan menggunakan model pembelajaran project based learning dengan pendekatan saintifik yang dapat meningkatkan motivasi siswa. Hal ini juga tercermin dari hasil evaluasi post-test siswa dengan rata-rata kelas 92 poin dan ketuntasan 100%, lebih baik dibandingkan dengan pre-test dengan rata-rata kelas 61 poin dan ketuntasan 33%, dan penilaian produk serta laporan siswa menunjukkan skor rata-rata. Nilai rata-rata kelas mencapai 94 poin untuk produk dan 94 poin untuk laporan, nilai tertinggi untuk produk dan laporan siswa adalah 100, dan nilai terendah untuk siswa adalah 83 dalam pembuatan produk serta 88 dalam pembuatan laporan. Berdasarkan hasil tersebut, motivasi belajar perserta didik pada pembelajaran IPA dengan menggunakan model Problem Based Learning melalui pendekatan saintifik, dapat disimpulkan berhasil meningkat karena nilai yang diperoleh berada lebih bagus di atas kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP).
Melihat beberapa uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa jika model dan strategi pembelajaran yang tepat dan memenuhi kebutuhan siswa, maka dapat muncul proses pembelajaran yang inovatif. Respon orang lain dengan pembelajaran yang dilaksanakan:
1) Rekan Guru
Menurut rekan guru yang mengetahui kegiatan pembelajaran ini, pembelajaran terkesan seru dan menyenangkan. Siswa secara aktif menikmati pembelajaran, 7 bukan pembelajaran yang monoton. Penggunaan LKPD, media, serta bahan ajar juga lengkap dan inovatif.
2) Siswa
Menurut siswa, ketika mereka merefleksikan pembelajarannya, mereka menganggapnya menyenangkan dan mengasyikkan. Siswa memperoleh banyak informasi baru berdasarkan pengalaman belajarnya sendiri, dan aktivitas yang paling menyenangkan adalah kegiatan praktik membuat Tempe dan Tape bersama teman-teman.
Faktor keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh beberapa diantaranya, yaitu : perangkat pembelajaran yang disusun secara rinci dan detail, pemilihan model pembelajaran yang tepat, penggunaan bahan ajar yang konkrit, media pembelajaran yang digunakan, serta kemampuan guru mengelola kelas berdasarkan karakteristik siswa. Faktor ketidakberhasilan dapat dimungkinkan karena kurang cermat dalam memahami karakter individu siswa pada saat pembelajaran, maupun ketidaktelitian siswa pada saat mengerjakan soal evaluasi.
Rekomendasi :
Bagi rekan pendidik yang ingin melaksanakan pembelajaran IPA dengan model Project Based Learning dengan pendekatan saintifik untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:
1) Guru harus mampu menguasai materi dan mengembangkan diri dalam merancang LKPD, bahan ajar, dan media pembelajaran.
2) Guru harus mampu mengelola kelas dengan baik 
3) Guru perlu memahami sintaks PJBL dengan baik 
4) Guru perlu memahami karakteristik siswa

KESIMPULAN

Penerapan model pembelajaran Project Based Learning yang digunakan dalam materi bioteknologi mendapatkan apresiasi dari peserta didik serta rekan sejawat. Kedepannya model pembelajaran ini dapat diimplementasikan pada pelajaran-pelajaran lain oleh rekan sejawat seperti mata pelajaran penjaskes, matematika, BK, dan lainnya.
Dengan demikian, penerapan model pembelajaran ini dapat dipastikan sangat efektif dan berhasil dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik SMP Kesatrian 1 Semarang. Selain itu pembuatan tempe dan tape dengan menggunakan metode STAR juga berpengaruh positif sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Keberhasilan ini tidak terlepas dari komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi dari semua pihak dilakukan secara bersinergi sehingga proses persiapan sebelum, selama, dan sesudah proses pembelajaran berlangsung lancar.
Pembelajaran yang didapatkan dari semua proses aksi adalah bahwa keberhasilan suatu pembelajaran di kelas tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mendesain model pembelajaran yang menarik, tetapi juga didukung oleh semua stakeholder terkait. Hal terpenting adalah pendidik memahami karakteristik peserta didik, media pendukung, kondisi sekolah, dan asesmen yang tepat.


DAFTAR PUSTAKA

Afifah A N, Nur Ilmiyati dan Toto. 2019. Model Project Based Learning (Pjbl) Berbasis Stem Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Pendidikan (2). Tersedia dalam https://www.journal.uniku.ac.id/index.php/quagga/article/view/1910/pdf. Diakses pada tanggal 14 November 2023. 

Zubaidah Siti, Mahanal Susriyati, Yuliati Lia, Dasna I Wayan, Pangestuti Adrian A, 

Puspitasari Dyne R, Mahfudilah Hamim T, Rabitah Alifah, Kurniawati Zania L, Rosyidah 

Fatiah, dan Solihah Maratus. 2018. Ilmu Pengetahuan Alam Kelas IX Semester 2. Jakarta: Kemendikbud. 

Cahyo, Suryo B, dkk. 2015. Mandiri IPA SMP / MTS Kelas IX. Jakarta: Erlangga. 

Arikunto, S. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. 
Asitah, N. and Ismafitri, R. 2021. Product Based Learning. Sidoarjo: UNUSIDA Press.

 





Comments

Kunjungan

Flag Counter